Orang ketagihan pornografi otaknya mengecil, tak fokus belajar

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Linda Amalia Sari Gumelar , mengaku prihatin dengan beredarnya video asusila yang melibatkan siswa/i SMP 4 Jakarta. Menurutnya, aksi seronok yang dipertontonkan kerap dibahas, termasuk dampaknya.

“Tentu sangat prihatin dan sangat menyesal atas kejadian tersebut, hal inikan sebenarnya sudah banyak dibahas. Kalau orang ketagihan pornografi itu otaknya akan mengecil dan tidak fokus dalam belajar serta tidak punya masa depan,” katanya di Bandung, Senin (4/11).

Dengan adanya, video tersebut ia mengaku perlu ada semacam pendekatan bagi para pelaku agar mereka paham dengan apa yang dilakukannya.

“Kan sudah banyak sekali dibahas, sekarang tentu kita berharap bagaimana anak-anak ini terlindungi. Semua anak Indonesia terlindungi dari pornografi,” ucapnya.

Menurut dia, peran keluarga dan sekolah sangatlah penting. Dua tonggak ini akan menjadi benteng pertahanan agar anak-anak Indonesia bisa tercegah dari bahaya pornografi.

“Para guru lakukanlah pendekatan terhadap siswa didiknya sebagai kawan dan juga orangtua, dekatilah anak layaknya teman, ini akan menjadi penting,” paparnya.

Untuk menindaklanjuti kasus ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sudah koordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta.

“Urusan anak dan perempuan sebagaimana diatur PP Nomor 38 Tahun 2007 urusan wajib pemda,” terangnya seraya menambahkan pihaknya akan mengeluarkan kebijakan untuk masalah pornografi khususnya anak-anak yang menjadi pelaku.

Merdeka.com 

Hukum Mengagungkan Kuburan Menurut Ulama Madzhab Syafi’i

Hukum Mengagungkan Kuburan Menurut Ulama Madzhab Syafi’i

 

kuburanSaudaraku, ketahuilah bahwa syirik adalah dosa besar diurutan pertama. Dan asal kesyirikan bermula dari pengkultusan terhadap kuburan. Simaklah penuturan beberapa ulama dari madzhab Syafi’i yang melarang keras mengagungkan kuburan.

 

Sayangnya, Umat Islam di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i seperti acuh terhadap perkataan ulama mereka dan bahkan seolah olah menentang perkataan ulama mereka sendiri yang harusnya mereka hormati.

 

Ulama besar ahli tafsir yang bermadzhab syafi’i, Imam al-Hafidz Ibnu Katsir berkata:

 

“Asal penyembahan terhadap berhala adalah sikap berlebihan (dalam mengagungkan) kuburan dan penghuninya”. Al-Bidayah wan Nihayah : X/703)

 

Imam Nawawi menjelaskan :

 

“Barangsiapa terbetik dalam benaknya bahwa mengusap dengan tangan dan semisalnya lebih mendatangkan barakah, maka keyakinan itu tidak lain bersumber dari kebodohan dia dan kelalaiannya sebab keberkahan itu hanya bisa didapat dengan melaksanakan syariat. Bagaimana mungkin keutamaan diupayakan dengan perbuatan yang bertolak belakang dengan kebenaran ?! (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab:VIII/275)

 

Imam al-Ghazali (w.505H) berkata : “Sesungguhnya mengusap dan mencium kuburan merupakan adat kaum yahudi dan nasrani”. (Ihya’ Ulumuddin I/254).

 

Dan dalam kitabnya yang sangat bagus al-Maqrizi asy-Syafi’i (w. 845 H) berkata:

 

“Syirik dalam bentuk perbuatan seperti sujud kepada selain Allah, Thawaf bukan di Baitullah (Ka’bah), Mencukur rambut dalam rangka beribadah dan tunduk kepada selain Allah, mencium batu selain hajar aswad yang ia sebelah kanan Allah di bumi , mencium kuburan atau mengusapnya dan sujud kepadanya”. (Tajridut Tauhid al-Mufid hal. 31).

 

Sayangnya, Umat Islam di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i yang berusaha memutarbalikan kata-kata imam mereka sendiri.

 

Kita Berlindung kepada Allah dari Syirik yang kita ketahui dan tidak kita ketahui…

 

Mari Tetap Dukung Khazanah Islam Trans 7, Kebenaran akan terlihat dan kemaksiatan akan terbongkar. Allah bersama orang-orang yang sabar.

 

http://kisahislami.com/hukum-mengagungkan-kuburan-menurut-ulama-madzhab-syafii/

Telaah Menyingkap Barcode, 666, 13

Telaah Menyingkap Barcode, 666, 13

barcodeBarcode atau Kode garis-garis batangan bukan barang baru bagi kebanyakan orang. Hampir di seluruh produk buatan pabrik, bahkan kini di banyak produk rumahan, semuanya mencantumkan kode batangan ini. Kode yang terdiri dari garis-garis dengan ketebalan yang bervariasi oleh banyak kalangan dianggap sebagai sesuatu yang mempermudah pengidentifikasian suatu barang. Barcode ini lahir di Amerika Serikat pada awal dekade 70-an.

Pada awalnya orang banyak percaya bahwa pencantuman Barcode pada suatu produk pabrikan semata hanya untuk mempermudah pengindentifikasian dan klasifikasiannya. Namun pada perkembangannya kemudian, Barcode dicurigai sejumlah kalangan sebagai salah satu alat bagi pihak Konspirasi Internasional untuk menguasai dunia menuju apa yang sekarang dikenal dengan istilah “The New World Order” / Tata Dunia Baru, yaitu suatu keadaan di mana seluruh negara-bangsa di dunia ini tunduk pada kekuasaan “Amerika Serikat dan Zionis Israel”.

Perkembangan demi perkembangan global ini, membuat kalangan yang sejak awal mencurigai ada misi tersembunyi di balik penggunaan Barcode, semakin yakin dengan kecurigaannya. Mereka kebanyakan berlatar belakang sebagai Simbolog, Penulis, Peneliti, dan Pengkaji Alkitab.

Salah satunya adalah Mary Stewart Relfe, PhD. Perempuan pengusaha sukses dari Montgomerry, AS, yang juga berprofesi sebagai seorang pilot sekaligus instruktur peralatan Multi Engine Instrument Flight, telah menulis dua buah buku best-seller yang menyoroti konspirasi ini. Salah satunya berjudul  “666 The New Money System” terbitan tahun 1982.

Menurut Stewart, upaya Konspirasi untuk menguasai dunia dalam hal pengidentifikasian dan pengendalian dunia terbagi dalam tiga tahapan:

Tahap pertama

Dimulai tahun 1970 yang dijadikan titik awal bagi langkah-langkah ini.“Tahun ini merupakan awal bagi mereka dalam memberikan identifikasi pada tiap barang yang ditandai dengan angka pada tingkat manufaktur. Barcode mulai digunakan, diselaraskan dengan sistem komputerisasi yang mampu membaca kode-kode tersebut. Sasaran utama tahap ke satu ini adalah untuk menyeragamkan sistem dan pabrik komputer raksasa di seluruh dunia, agar mampu mengenali kodifikasi di atas.”

Tahap kedua

Dimulai tahun 1973.” Penggunaan Barcode yang awalnya diterapkan pada barang manufaktur, kini mulai diterapkan pada manusia, antara lain lewat nomor kodifikasi Angka Kesejahteraan Sosial (The Social Security Number) yang digabungkan dengan sistem pemberian angka secara universal.

Penggabungan dua kodifikasi angka ini menjadi kode-kode batangan (Barcode) yang mirip dengan Barcode pada produk manufaktur yang telah diterapkan tiga tahun sebelumnya.
Awalnya diterapkan pada kartu-kartu pintar seperti Credit Card, Debit Card, ID Card, dan sebagainya. Namun pada perkembangannya juga mulai diterapkan pada manusia. Target utama tahap kedua ini adalah pemerintahan, perbankan, dan perusahaan-perusahaan pembuat kartu-kartu pintar (Smart Card).”

Tahap ketiga

Meliputi usaha untuk mengidentifikasikan setiap macam yang ada di dunia ini, baik yang bergerak maupun yang tidak. Semua pengidentifikasian ini berguna untuk mengetahui sisi lemah suatu kelompok, wilayah, bahkan suatu bangsa, yang nantinya bisa dijadikan senjata bagi Konspirasi.

6 garis batangan sebagai sekat mewakili simbol “666″

Para pengkritisi Barcode berhasil menemukan salah satu rahasia paling vital dari kode-kode batangan ini. Semua Barcode atau yang juga dikenal sebagai Universal Product Code (UPC) Barcode memiliki angka 666 dan 13!
Untuk mengetahuinya, silakan melihat Barcode yang ada di berbagai produk. Perhatikan jumlah angka yang ada di bawah garis-garis batangan. Jumlahnya selalu 13 angka. Walaupun kadangkala ada juga yg tak sampai 13 angka tapi pasti akan ada 6 garis panjang sebagai sekat angka barcodenya.  Angka 6 yang disimbolkan dalam kamus Barcode terdiri dari dua garis tipis saling berhadapan terletak di sisi paling kiri dan paling kanan Barcode, dan satunya lagi garis paling tengah. Ketiga garis yang melambangkan angka 6 ini lebih panjang dibanding garis-garis lainnya. Jadi, seluruh UPC Barcode yang tersebar di dunia ini memiliki rangka 666.

Arti tiap angka pada barcode
Stewart meringkas bahaya dari Konspirasi dalam hal Barcode:
“Penerapan teknologi Barcode pertama kali dilakukan pada produk barang, disusul kemudian pada kartu, dan akan berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dalam masyarakat yang tidak lagi menggunakan uang kontan… “
Secara garis besar kelompok atau Rezim ini mengawali dengan memanipulasi Emas dan perak dan akan mengakhirinya dengan penggunaan Microchips yang akan di tanam di bawah kulit manusia.
Standarisasi uang kertas, kemudian ke uang plastik yang terdiri dari karu kredit, kartu debet dan sebagainya berasal dari negara amerika, dan bukan hal yang kebetulan belaka jika pemberlakuan
Barcode dan microchip berawal dari negara ini. hal ini selaras dengan lambang negara AS yang banyak sekali mengandung Falsafah dari cita-cita rezim rahasia tersebut seperti seloka Novus Orde Seclorum (Tata Dunia Baru) simbol 13 dan 666 serta piramida Illuminati yang terdiri dari 13 Tingkatan.

Sekarang setiap orang yang memegang kartu kredit maka seluruh data pribadinya telah ada di dalam pusat database perusahaan kartu kredit tersebut. Informasi yang sangat privacy ini menjadi hal yang sangat telanjang dihadapan produsen kartu kredit yang semuanya berpusat di Amerika Serikat. Dan satu lagi pertanyaan adalah sumber data seseorang dalam kartu kredit dengan sistem kekeluargaan Yahudi yang menganut sistem darah IBU, Jika anda memegang kartu kredit dan hendak mengetahui segala informasi tentang kartu kredit anda dengan menelepon call centre, maka pertama yang pasti di tanyakan sang operator nama Asli ibu kandung anda, Bukan ayah anda.

Dengan simbol-simbol religiuitas mereka sepertinya tidak ada satu wilayah atau sistem pun di dunia sekarang ini yang bersih dari jejak mereka.

Singkatnya, konspirasi akan menumpuk dan menyedot uang kontan masyarakat ke dalam lemari besi mereka, juga emas dan segala batu mulia, serta mengunci rapat-rapat lemari itu, sedang ke tengah masyarakat mereka hanya memberikan ‘uang plastik’ dengan nominal tertentu.

Inilah tipu daya mereka sehingga semua manusia pada saatnya nanti akan tunduk pada konspirasi. “Semuanya ini hanya terjadi dalam satu masa bagi seluruh umat manusia, yakni pada hari akhir zaman!” ujar Stewart.

Oleh Abu Labib ‘Abdullah

Sumber : http://kisahislami.com/telaah-menyingkap-barcode-666-13/

” Sepenggal Catatan Tentang Terorisme “

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Ketika dunia dalam keheningan, terorisme menggoncangnya dengan penuh kekuatan. Sejarahnya yang selalu haus darah, sungguh menjadi ancaman bagi kehidupan. Tiada hunian yang dirambahnya pasti diliputi keresahan. Terorisme benar-benar menggemparkan, menakutkan, dan mengerikan. Ironinya, terorisme diidentikkan dengan Islam. Padahal Islam mengutuk terorisme dan berlepas diri darinya.

Pada beberapa tahun terakhir ini, dunia digoncang oleh serangkaian aksi teror1 bom yang mengerikan. Umat manusia terenyak bingung saat mendengar atau menyaksikan episode horor yang menakutkan itu. Aksi teror bom yang dilakukan secara rahasia, baik dengan meledakkan bom waktu, bom bunuh diri, maupun dengan sebatas pemberian ancaman bom berupa kiriman paket, parcel, dan surat. Praktik batil yang tak selaras dengan Islam yang murni dan fitrah yang suci. Akibatnya, tak sedikit kerugian yang diderita oleh umat manusia. Gedung – gedung luluh lantak, mayat-mayat bergelimpangan, korban luka-luka pun harus hidup menderita. Demikian pula kerugian yang bersifat psikis, sangat terasa dalam kehidupan. Kegalauan jiwa muncul walau berada di tengahtengah hunian yang ditinggali. Sebuah tragedi kemanusiaan yang telah menodai lembaran sejarah dengan penderitaan dan kehancuran. Tragisnya, aksi teror bom terus merambah banyak negeri, termasuk Indonesia, tanah air kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menjaganya, membimbing para pemimpinnya di atas Islam, dan menjadikan masyarakatnya sebagai komunitas insan yang beriman lagi bertakwa. Amiin….
Terorisme Bukan dari Islam

Tak dimungkiri bahwa tragedi 11 September 2001 benar-benar menggemparkan dunia. Sebuah aksi teror yang terhitung perdana dalam kisaran dasawarsa (sepuluh tahun) terakhir ini. Aksi teror yang dilakukan oleh dua pesawat Boeing 767 yang menabrakkan diri ke menara kembar WTC dan Pentagon New York, Amerika Serikat (AS). Kedua pesawat itu meledak saat menabrakkan diri ke menara kembar yang tinggi menjulang. Kebakaran pada bagian atas gedung yang dibangun dengan
konstruksi baja itu tak dapat dihindarkan. Tak lama kemudian, menara kembar WTC yang megah itu pun hancur luluh lantak. Sekitar tiga ribu jiwa tewas, dan tak sedikit jumlah korban luka-luka. Muncul pertanyaan, siapakah pelakunya? Di antara sejumlah nama yang disebut-sebut berada di balik tragedi itu adalah Usamah bin Laden dengan jaringan al-Qaedanya. Dengan jitu media massa Barat (baca: kafir) memanfaatkan peluang emas tersebut sebagai modal utama untuk menebar opini
bahwa Islam adalah agama terorisme dan melahirkan para teroris. Tak sebatas itu, AS dan sekutunya menjadikan peluang emas itu sebagai alasan kuat untuk melakukan berbagai operasi teror berskala internasional. Siapakah korbannya? Di antara korbannya adalah rakyat Afghanistan yang
notabene muslim. Mereka dibombardir oleh AS dan sekutunya dengan amat kejam. Alasannya sederhana, memburu para teroris yakni Usamah bin Laden dan jaringan al-Qaedanya yang ditengarai bersembunyi di sana. Akibatnya, tak sedikit dari kaum muslimin Afghanistan yang menjadi korban. Jumlahnya pun tak sebanding dengan jumlah korban WTC. Selang setahun kemudian, aksi teror bom beralih ke tanah air. Tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2002 aksi peledakan bom terjadi di Legian, Bali. Sekitar 202 jiwa tewas dan ratusan orang korban luka-luka. Peristiwa ini
dikenal dengan Tragedi Bom Bali I, mengingat menyusul aksi peledakan bom Bali berikutnya pada tanggal 1 Oktober 2005 yang dikenal dengan Tragedi Bom Bali II. Siapakah pelakunya? Lagi-lagi

nama yang disebut-sebut dari pihak muslim. Mereka adalah Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas.
Setelah Bom Bali II, masih berlanjut berbagai aksi teror bom lainnya di tanah air. Identifikasi pelakunya pun dari pihak muslim. Akibatnya, muncul sebuah penilaian (paradigma) yang salah

di kalangan “masyarakat luas” bahwa Islam adalah agama terorisme. Padahal siapa pun yang mengkaji Islam secara proporsional pasti menyimpulkan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin) dan bukan agama terorisme.
Terorisme Bukan Jihad

Para pembaca yang mulia, bila mencermati berbagai aksi teror yang mengatasnamakan Islam sejak zaman dahulu hingga hari ini, faktor utama yang melandasi para pelakunya adalah prinsip keyakinan (ideologi), bukan harta atau yang semisalnya. Mereka meyakini bahwa berbagai aksi teror itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Adapun pelakunya menyandang predikat mujahid, bukan teroris. Padahal jihad tidak bisa dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan yang harus dimengerti
dengan baik dan benar. Lebih dari itu, jihad harus dilakukan bersama penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu.2 Cobalah perhatikan serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kelompok sesat Khawarij terdahulu. Tidaklah mereka melakukannya kecuali karena keyakinan jihad, bukan karena harta atau yang semisalnya. Padahal serangkaian aksi teror yang mereka lakukan itu targetnya adalah orang-orang pilihan dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Perhatikanlah paparan ringkas tentang serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kaum Khawarij berikut ini.
1. Pengepungan terhadap rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka saat itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.
2. Pembantaian terhadap Abdullah bin Khabbab bin al-Art rahimahullah, saat itu beliau adalah Gubernur Madain (sebuah kota di Irak, arah tenggara Baghdad) pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Kaum Khawarij membunuhnya dan membunuh budak wanitanya yang sedang hamil saat
melewati wilayah kekuasaan mereka. Tak hanya itu, mereka merobek perut budak wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pemimpin utama mereka saat itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi.

3. Pembunuhan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, saat beliau keluar rumah hendak mengimami shalat subuh. Pelakunya adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi.

>4. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu selaku Gubernur Syam (sekarang meliputi Palestina, Syiria, Lebanon, dan Yordania, pen.). Operasi tidak berhasil, karena

beliau berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Yang menjadi korban adalah seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut.

5. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu selaku Gubernur Mesir. Operasi tidak berhasil, karena beliau berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sebagai korbannya, seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t, 12/296—298; al- Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, 7/281; dan Lamhatun

‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy- Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 31—33)3 Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional saat itu. Tidak tanggung-tanggung, target operasi mereka adalah dua khalifah mulia kaum muslimin yang keduanya adalah menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah memetik janji surga dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilakukan kecuali karena satu keyakinan bahwa para korban operasi itu telah kafir dan aksi yang mereka lakukan itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahul musta’an.

Bagaimanakah dengan serangkaian aksi teror bom yang terjadi belakangan ini? Apa landasan para pelakunya? Jawabannya, tak beda dengan kaum Khawarij terdahulu itu. Landasannya adalah ideologi “jihad”. Mari kita simak penuturan mereka yang terlibat dalam serangkaian aksi teror bom tersebut. Usamah bin Laden berkata dalam sebuah kaset yang berjudul “Bersiapsiaplah Untuk Jihad”, “… Hendaknya setiap muslim segera terjun ke medan jihad memerangi orang-orang Yahudi

dan Amerika! Sesungguhnya ini termasuk kewajiban yang paling wajib, dan termasuk ibadah yang paling besar…. Tidak perlu kalian bermusyawarah dengan seorang pun untuk membantai Amerika.

Lakukanlah (berjihadlah) dengan berkah dari Allah Subhanahu wata’ala!” Bagaimana realisasi dari jihad yang dimaksud? Simaklah ucapan Usamah bin Laden berikut ini, “Aku memandang dengan penuh pemuliaan dan penghormatan kepada para pemuda mulia yang telah menghilangkan kehinaan dari umat ini, baik mereka yang telah melakukan peledakan bom di kota Riyadh (ibu kota Saudi Arabia), peledakan di kota Khubar (Saudi Arabia), atau peledakan-peledakan di Afrika Timur, dan yang semisalnya.” Adapun Imam Samudra—termasuk pengagum Usamah bin Laden—berkata, “Konyolnya, ada ulama dari kalangan kaum muslimin yang termakan celotehan vampire-vampire tersebut sehingga dengan seenaknya berfatwa, ‘Apa pun alasannya, Islam mengutuk tindakan tersebut. Islam tidak membenarkan memerangi warga sipil dari bangsa dan agama apa pun!’.” Ucapan senada terdengar juga ketika terjadi operasi jihad WTC dan Pentagon pada 11 September 2001.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 110) Imam Samudra berkata terkait dengan aksi teror bom Bali, “Bom Bali adalah salah satu jihad yang harus dilakukan, sekalipun oleh segelintir kaum muslimin.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 115) Demikianlah, serangkaian aksi teror bom berskala internasional itu mereka yakini sebagai jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Padahal jauh panggang dari api. Aksi teror bom itu bukan jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Aksi teror bom itu tak sesuai dengan prinsip salaf, generasi terbaik umat ini. Justru tindakan tersebut adalah napak tilas gerakan Khawarij, sekte sesat pertama yang muncul dalam ranah kehidupan Islam.4 Mengapa dikatakan napak tilas gerakan Khawarij? Bukankah target operasi kaum Khawarij adalah kaum muslimin, bahkan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan para aktor bom tersebut target operasinya adalah orang-orang kafir, AS dan sekutunya? Ya, itu sebagian target mereka. Tetapi, bukankah kemudian teror itu juga dilakukan di negeri-negeri kaum muslimin, bahkan sebagiannya menjadikan kaum muslimin sebagai target?

Ketahuilah bahwa kondisi para aktor bom tersebut tak jauh berbeda dengan kondisi kaum Khawarij terdahulu. Mereka sama-sama terlibat dalam serangkaian aksi teror berskala internasional yang meresahkan umat. Apabila merujuk pada kamus, berarti mereka itu sama-sama disebut teroris. Dalam hal target operasi, hakikatnya tak jauh berbeda juga. Jika Amerika dan sekutunya dinilai kafir oleh para aktor bom tersebut, demikian pula Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia, mereka pun dinilai kafir oleh kaum Khawarij. Jadi, target operasi keduanya sama-sama orang

kafir di mata para eksekutor teroris itu. Pernyataan bahwa target operasi para aktor bom tersebut adalah orang kafir, hakikatnya hanya kamuflase saja. Bukankah di antara korban peledakan yang dilakukan oleh para aktor bom tersebut baik dalam tragedi Khubar (Saudi Arabia) maupun bom Bali I & II adalah kaum muslimin?! Entahlah, jika mereka semua juga dihukumi sebagai orang kafir! Lalu, apa yang membedakan mereka dengan kaum Khawarij terdahulu yang menghukumi Khalifah Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang mulia sebagai orang kafir?! Bahkan, mereka lebih sadis

dan kejam dibandingkan kaum Khawarij terdahulu. Mengingat korban kaum Khawarij bersifat spesifik pada orangorang yang ditarget saja, sedangkan korban para aktor bom tersebut bersifat

sporadis dan membabi buta. Para wanita, anak-anak, dan semisalnya dari kalangan lemah pun tak urung jadi korbannya. Kalau kaum Khawarij terdahulu dengan sadis merobek perut seorang wanita

muslimah untuk mengeluarkan janinnya, maka bom para teroris itu dengan sadis dapat menghancurkan tubuh korbannya berkeping-keping dan meluluhlantakkan gedung-gedung yang kokoh. Berikutnya, jika diandaikan bahwa korban pengeboman itu adalah orang kafir semata (padahal ada yang muslim), maka dari jenis kafir apakah mereka? Bukankah korban pengeboman tersebut mayoritasnya dari jenis orang kafir yang tidak boleh dibunuh dalam syariat yang mulia ini?! Sebagian mereka dari jenis kafir musta’min yaitu orang kafir yang berkunjung/wisata ke negeri muslim setelah mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin dalam batas waktu tertentu. Sebagian lagi dari jenis kafir mu’ahad yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri, namun terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sebagian yang lain dari jenis kafir dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslim dan mendapatkan jaminan dari pemerintah kaum muslimin untuk hidup secara aman. Demikianlah tiga jenis orang kafir yang tak boleh dibunuh dan tak boleh pula dirampas hartanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih dan dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam berbagai karya tulis mereka. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Jiwa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk dibunuh adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, seorang kafir dzimmi, kafir mu’ahad, dan kafir musta’min.” (al-Qaulul Mufid ala Kitabittauhid 1/38)

Melacak Akar Keislaman Para Teroris

Apa yang telah lalu merupakan sepenggal catatan tentang terorisme dan korelasinya dengan kaum Khawarij terdahulu. Tentunya bila kita lebih giat mempelajari sejarah mereka, niscaya akan lebih banyak catatan berharga tentang terorisme dan para teroris itu. Setidaknya terkait dengan akar keislaman yang selalu dipegang erat oleh mereka dari masa ke masa. Berikut ini adalah tiga akar kekeliruan mendasar yang telah menjerumuskan para teroris Khawarij ke dalam lumpur terorisme

yang hitam dan mengerikan itu. Mudah. mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita semua darinya.

Pertama: Akidah Takfir

Terorisme tak bisa dipisahkan dari akidah takfir, yaitu sikap mudah mengafirkan orang lain tanpa proses yang benar (syar’i). Bahkan, berbagai aksi teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti penculikan, pembunuhan, pengeboman, pemberontakan, dan semisalnya, baik yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok, mayoritasnya disebabkan oleh akidah takfir ini. Menurut sejarah, akidah takfir diprakarsai oleh kaum Khawarij terdahulu. Dengan akidah takfir, mereka lancang mengafirkan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia. Mereka

menghalalkan darah dan harta siapa saja yang tak sepaham dengan mereka. Mereka melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan melancarkan berbagai aksi teror berskala internasional. Akidah takfir dan pergerakannya terus berlanjut secara estafet dari masa ke

masa hingga hari ini. Efeknya terhadap umat sangat berbahaya sepanjang masa, yaitu mengafirkan orang yang tak sepaham, menghalalkan darah dan harta mereka, melakukan serangkaian aksi teror, serta memberontak terhadap pemerintah muslim. Apakah Usamah bin Laden dan Imam Samudra mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu? Ya, keduanya mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu. Simaklah penuturan mereka berikut ini.

• Usamah bin Laden berkata, “Maka para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, dengan itulah mereka telah keluar dari agama (Islam) ini dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.” (Ceramah Terakhir untuk Rakyat Irak pada bulan Dzulhijjah 1423 H, MAT hlm. 252)

• Usamah bin Laden berkata, “Para pemerintah itu telah melanggar dua kalimat syahadat (syahadatain) dalam masalah yang paling prinsip. Yaitu sikap loyal mereka terhadap orangorang

kafir, menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai syariat, dan persetujuan mereka untuk berhukum kepada undang-undang atheis. Maka kepemimpinan mereka itu secara syar’i sudah lama gugur dan tidak ada lagi pemerintahan Islam setelahnya.” (al-Jazeera 5-12-1423 H, MAT hlm. 252)

• Imam Samudra berkata, “23 Mei 1924, mercusuar terakhir, benteng terakhir umat Islam, tumbang sudah… Saat Khilafah Islamiyah musnah, dunia kembali ke zaman jahiliah….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 89—90)

• Imam Samudra berkata, “Aku di jalan Islam, di jalan Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan mereka di atas jalan jahiliah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200)

• Imam Samudra berkata, “Tetapi manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang zalim, bodoh lagi lemah, malah membuat way of life sendiri, menandingi hukum Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna. Manusia telah menyekutukan hukum Allah dengan hukum buatannya sendiri. ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.(al-Ahzab: 72) TETAPI MEREKA ANGKUH LAGI MUSYRIK, ‘Manusia dijadikan bersifat lemah.(an-Nisa’: 28)Di Indonesia, dan di mana pun, banyak kita temukan tipe manusia seperti itu. Bahkan jumlah mereka mayoritas. Mereka telah menyekutukan hukum Allah Subhanahu wata’ala dengan hukum made-in gado-gado.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200—201)

• Imam Samudra berkata , “Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, dengan perantaraan Pak Qadar, Pak Michdan, dan saudara-saudara seislam di TPM. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 15) Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya, “Mengapa mereka terjatuh pada akidah takfir yang sangat berbahaya itu?” Menurut asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahsebabnya ada dua:

1. Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.

2. Ini yang terpenting, yaitu memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, pen.). (Fitnatut Takfir, hlm. 13) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas niat yang jelek. (Fitnatut Takfir, hlm. 19) Demikian pula asy-Syaikh Shalih al- Fauzan hafizhahullah menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut-Tabdi’ wat-Tafsiq wat-Takfir

wa-Dhawabithuha, hlm. 14)5

Kedua: Melecehkan Para Ulama Kibar (Besar)

Sejarah mencatat bahwa orangorang yang terbelenggu akidah takfir, tidak akan berjalan di atas bimbingan para ulama kibar (besar) dalam menyikapi berbagai permasalahan strategis yang ada di tengah umat. Lihatlah kaum Khawarij terdahulu! Mereka mencampakkan bimbingan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para ulama kibar (besar) di masa itu. Apa sebabnya? Tidak lain karena para sahabat tersebut tidak menyetujui penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka. Bagaimanakah dengan Usamah bin Laden dan Imam Samudra dalam hal ini? Ternyata mereka tak jauh berbeda

dengan kaum Khawarij terdahulu. Untuk lebih jelasnya, simaklah penuturan mereka berikut ini:

• Usamah bin Laden, saat memperingatkan umat dari fatwa-fatwa asy-Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Baz t, berkata, “Oleh karena itu, kami mengingatkan umat dari fatwa-fatwa batil seperti ini yang tidak memenuhi syarat.” (Surat Usamah bin Laden, tanggal 28-8-1415, MAT hlm. 264)

• Imam Samudra berkata, “Pada saat mana ulama-ulama kian asyik tenggelam dalam tumpukan kitab-kitab dan gema pengeras suara. Mereka tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan, dan penjajahan terhadap kiblat dan tanah suci mereka….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 93)

• Imam Samudra berkata, “Ia (yakni Raja Fahd) dan gerombolan pembisiknya mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang—dengan segala hormat—kurang mengerti trik-trik politik….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 92) Mengapa para ulama kibar (besar) tersebut disikapi oleh mereka sedemikian rupa? Jawabannya sama, yaitu karena para ulama kibar (besar) tersebut tidak menyepakati penyimpanganpenyimpangan yang ada pada mereka. Subhanallah, setali tiga uang. Oleh karena itu, ketika para ulama kibar (besar) dicampakkan, tentu saja yang akan dijadikan rujukan adalah ruwaibidhah yaitu orang dungu yang berani berbicara tentang urusan strategis umat. Apabila demikian, maka jaminannya adalah kesesatan.

Ketiga: Akidah Khuruj alal Hukkam

Akidah khuruj alal hukkam, yaitu keyakinan boleh/wajib memberontak terhadap penguasa kaum muslimin. Sejarah mencatat bahwa akidah khuruj alal hukkam galibnya merupakan paket lanjutan dari akidah takfir, dan pelecehan terhadap para ulama kibar (besar). Demikianlah proses yang terjadi pada kaum Khawarij ketika memberontak terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Akidah khuruj alal hukkam sangat bertentangan dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, bahkan sebagai sebab terbesar bagi hancurnya kehidupan umat manusia.

Al-Imam Ibnul Qayyim Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan harapan dapat berbuah kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Jika pengingkaran terhadap kemungkaran itu memunculkan kemungkaran yang lebih besar (memperparah keadaan) serta lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, pengingkaran tersebut tidak boleh dilakukan walaupun Allah Subhanahu wata’ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya.

Di antaranya pengingkaran terhadap para raja dan penguasa (kaum muslimin) dengan pemberontakan. Sungguh, hal itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah sepanjang masa.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/ 6) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, di antara prinsip Ahlus Sunnah yang masyhur adalah tidak boleh membangkang terhadap para penguasa dan tidak boleh pula memerangi mereka dengan senjata, walaupun mereka berbuat zalim. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan dalam haditshadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih lagi banyak jumlahnya. Mengingat kerusakan (yang ditimbulkan oleh sikap membangkang dan memberontak, -pen.) berupa perang dan kekacauan yang lebih parah dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kezaliman penguasa semata.…. Hampirhampir tidak ada satu kelompok pun yang memberontak terhadap penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dibandingkan kerusakan yang hendak dihilangkannya.” (Minhajus Sunnah, 3/391)6 Demikianlah sepenggal catatan tentang terorisme, semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Amiin….

” Kejahilan, Lahan Subur Terorisme ”

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin

Saat berlalu sosok wanita yang mengenakan pakaian hitam dengan wajah ditutup cadar, sekian pasang mata mengarah pandang padanya. Aneh, asing, tak seperti umumnya; begitu kesan mereka. Pemandangan semacam ini kerap ditemui di berbagai tempat. Fenomena ini memberi sedikit gambaran betapa masyarakat luas masih asing dengan ajaran Islam yang satu ini, lebih-lebih pada kalangan muslimah. Nilai ajaran berhijab, menutup segenap tubuh, termasuk menutup wajah dengan cadar belum tertanam secara baik. Pemahaman yang berkembang selama ini, berbusana muslimah sekadar menutup kulit tubuh. Tak dipahami bahwa berbusana muslimah yang selaras dengan tuntunan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya harus tidak transparan, membentuk lekuk tubuh, dan memamerkan perhiasan (tabarruj).

Detail penjelasan semacam ini tak diperhatikan sehingga busana muslimah lebih menguat nilai modisnya daripada nilai syar’inya. Akibat nilai modis itulah busana muslimah menjadi busana gaul yang memberi stimulus pada orang lain untuk lebih tertarik. Lebih lebih pada kaum laki-laki, busana punmenjadi daya pikat. Jika demikian, tentu saja busana itu telah menjadi sarana bagi berkembangnya fitnah (godaan). Sikap asing, merasa aneh masyarakat dalam merespon cara berpakaian dengan hijab dan cadar bisa menjadi barometer sejauh mana masyarakat mengenali pakaian yang sesuai dengan syariat. Ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dengan tingkat pemahaman masyarakat Islam terhadap agamanya. Semakin masyarakat memahami agamanya, semakin banyak ketentuan syariat yang dia pahami.

Termasuk dalam hal ini ketentuan berbusana pada muslimah. Keterbatasan pemahaman masyarakat tentang hal ini akan melahirkan sikap asing terhadap ajaran agamanya. Diperparah lagi dengan dibumbui isu-isu negatif terkait dengan hijab dan cadar. Misalnya, tumbuh stigma bahwa hijab dan cadar identik dengan kaum teroris. Apabila stigma ini terus berkembang, tingkat obkjektivitas masyarakat dalam memahami pakaian yang syar’i akan semakin rendah. Sikap merasa asing terhadap ketentuan agama tidak hanya dalam masalah hijab dan cadar. Keterbatasan masyarakat dalam memahami ajaran agama ditemui pula dalam hal lainnya.

Sebut saja masalah jenggot, berpakaian di atas mata kaki, larangan berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram, musik, dan lainnya. Bahkan, dalam masalah yang mendasar sekalipun, banyak masyarakat Islam tidak memahaminya. Di antaranya adalah masalah ibadah, thaharah (bersuci), shalat, puasa, zakat, dan haji. Terkait pula dengan akidah, membedakan antara syirik dan tauhid, sunnah dan bid’ah. Banyak kaum muslimin yang begitu awam, tidak mengenali Islam secara baik dan benar. Inilah kenyataan yang ada. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam pada awal (kemunculannya) dianggap sebagai sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi sesuatu yang asing sebagaimana awal (kemunculannya). Berbahagialah bagi orang-orang asing.” (HR. Muslim no. 145)

Siapakah orang asing itu (alghuraba’)? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya,

نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Orang-orang baik yang berjumlah sedikit di tengah-tengah manusia yang buruk yang berjumlah banyak. Orang yang menentang (memaksiati) mereka lebih banyak dibandingkan dengan yang menaatinya.” (ash-Shahihah no. 1619. Lihat Lamu ad-Dur al-Mantsur, hlm. 210)

Saat ditanya siapakah al-ghuraba’ itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Orang-orang yang berbuat kebaikan di saat manusia telah rusak.” ( ash- Shahihah, no. 1273. Lihat Lamu ad- Dur al-Mantsur, hlm. 210)

Terkait dengan “orang yang asing” ini, Syaikhul Islam rahimahullah mengutip firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

 “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orangorang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (Hud: 116)

Mereka berjumlah sedikit sekali. Mereka disebut orang asing lantaran mayoritas manusia tidak memiliki sifatsifat mereka. (Madariju as-Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hlm. 158)

Al – Qadhi bin ‘ Iyadh rahimahullah menyatakan bahwa apa yang tampak dari hadits tersebut adalah bersifat umum. Sesungguhnya Islam dimulai dari satu orang kemudian sekelompok kecil manusia. Lantas tersebar luas, setelah itu akan berkurang hingga tak tersisa kecuali sedikit sebagaimana di permulaan Islam datang. (al-Minhaj, 2/354)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan bahwa kebodohan (umat Islam) terhadap akidah yang benar disebabkan berpaling dari belajarmengajar akidah yang benar. Sedikit sekali perhatian dan dukungan terhadap hal itu sehingga timbul satu generasi yang tak lagi mengenal akidah yang benar. Mereka tak mengetahui segenap apa yang menyelisihi dan berlawanan dengannya. Karena itu, kebenaran dinyatakan sebagai kebatilan dan yang batil diyakini sebagai kebenaran. Hal ini  sebagaimana dinyatakan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لاَ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ

“Sesungguhnya tali Islam terurai seikat demi seikat, ketika tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengetahui kejahiliahan.” (Aqidatu at-Tauhid, hlm. 14)

Disebutkan oleh Abu Idris al- Khaulani rahimahullah,

سَمِعْتُ أَنَّ لِلْإِسْلَامِ عُرًى يَتَعَلَّقُ النَّاسُ بِهَا، وَإِنَّمَا تَمْتَلِغُ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَأَوَّلُ مَا يَمْتَلِغُ مِنْهَا الْحُكْمُ وآخِرُ مَا يَمْتَلِغُ مِنْهَا الصَّلاَةُ

“Saya mendengar sesungguhnya pada Islam terdapat ikatan yang manusia tergantung padanya. Sesungguhnya akan tercerabut seikat demi seikat (ikatan tersebut). Pertama yang dicabut dari ikatan tersebut adalah hukum. Adapun yang paling akhir adalah shalat.” (Lamu ad-Dur al-Mantsur min al-Qauli wa al-Ma’tsur fi al-I’tiqad wa as-Sunnah, Abu Furaihan Jamal bin al-Furaihan al-Haritsi, hlm. 212)

Selaras dengan hal itu, dinyatakan pula oleh Yunus bin Ubaid rahimahullah,

إِنَّ الَّذِي نَعْرِضُ عَلَيْهِ السُّنَّةَ فَيَقْبَلُهَا لَغَرِيبٌ، وَأَغْرَبُ مِنْهُ صَاحِبُهَا

“Sungguh, benar-benar asing, orang yang kami tampakkan as-Sunnah kepadanya lantas dia menerimanya. Lebih asing lagi adalah orang yang mengamalkannya.” (Lamu ad-Dur hlm. 212)

Demikian keadaan kaum muslimin. Betapa ajaran agama yang semestinya dipegang erat, tetapi sebagian dari mereka masih merasakan sebagai ajaran yang asing. Mereka tak mengenali nilai-nilai Islam secara baik dan benar. Mengapa demikian? Satu di antara sebabnya, sebagaimana dinyatakan oleh asy-Syaikh Fauzan bin Abdillah al- Fauzan hafizhahullah adalah tidak adanya perhatian dan kepedulian terhadap syariat Islam itu sendiri. Malas dan enggan untuk mempelajari Islam. Akhirnya, sikap jahil (tak mau memahami Islam) terus-menerus menyelubungi mereka. Mereka akhirnya hidup dalam kegelapan dan selalu bergelimang kegulitaan. Wal ‘iyadzu billah.

Selain itu, tumbuhnya sikap jumud dan hanya bisa mengikuti tradisi nenek moyang menjadikan mereka asing dengan nilai-nilai Islam. Mereka hanya berkutat pada kebiasaan-kebiasaan yang diperbuat oleh leluhurnya. Sikap seperti ini menjadikan seseorang tersandera oleh kebodohannya. Allah Subhanahu wata’alatelah menggambarkan keadaan sikap taklid tersebut dalam firman-Nya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk? (al-Baqarah: 170)

Sibuk dengan urusan dunia, sementara urusan agama dilalaikan. Sikap semacam ini akan menggiring seorang hamba Allah Subhanahu wata’ala ke tepian yang membahayakan. Dia akan jahil dengan urusan agamanya dan akan mengalami kebinasaan lantaran kerakusannya pada dunia. Hidupnya dikendalikan oleh hawa nafsu yang terus memburu dunia, bukan hawa nafsunya yang semestinya dia kekang dan kendalikan. Padahal kenikmatan hidup di dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit sekali. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

 “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (at-Taubah: 38)

Berapa banyak manusia tersungkur dalam kehidupan dunia dan lalai dari urusan agamanya. Sungguh, kehidupan dunia telah menipu dirinya hingga ia lalai dan tidak peduli dengan agamanya. Akhirnya, kejahilan pun melingkupi dirinya. Potret buram semacam ini sangat mirip dengan yang disebutkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma saat memberikan tafsir ayat,

وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ () يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

 “(Sebagai) janji yang sebenarbenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (ar- Rum: 6—7)

Menurut Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Orang-orang kafir hanya mengetahui kehidupan dunia. Adapun tentang perkara agama, mereka adalah orang-orang yang teramat bodoh.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/321)

Karena itu, tidak sepantasnya seorang muslim meniru gaya hidup orang-orang kafir. Piawai apabila bergelut dengan urusan dunia, tetapi tak tebersit dalam benaknya untuk meraup kebahagiaan di akhirat. Tujuan hidup seorang muslim adalah meniti kehidupan dunia ini guna meraih surga nan penuh kenikmatan. Untuk itu, patut baginya senantiasa memerhatikan bimbingan agama. Meniti jalan lurus yang digariskan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Inilah yang membedakan sikap hidup muslim dan kafir.

Bahaya Kejahilan

Jahil, tak memahami Islam dengan baik dan benar akan menggiring ke lembah bencana. Kejahilan akan menjadikan seseorang tertimpa petaka. Betapa tidak, kejahilan yang ada pada seorang akan menyeretnya berperilaku dan bersikap menyalahi Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bisa menjadi penentang al-haq,

meremehkan kebenaran. Jika demikian adanya, inilah sumbu bagi tersulutnya kebinasaan. Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan hal ini,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

“Rendah dan hina diperuntukkan bagi orang yang menyelisihi perintahku.” (HR. al-Bukhari)

Sungguh, ada seorang lelaki yang makan dengan tangan kirinya di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Laki-laki itu membantah, “Saya tidak mampu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyatakan kepadanya, “Memang, engkau pasti tak mampu.” Tiadalah yang mencegah laki-laki itu untuk menunaikan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali kesombongan yang ada pada dirinya. Laki-laki itu lantas tak mampu mengangkat tangannya. (HR. Muslim no. 2021, hadits Iyas bin Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu dari ayahnya)

Sikap jahil yang melekat di masyarakat Islam bisa menjadi lahan subur bagi tumbuhnya terorisme. Kekurangpahaman sebagian kaum muslimin terhadap ajaran Islam yang sebenarnya bakal menjadi celah menyusupnya paham-paham sempalan. Di antara sebab terseretnya manusia dalam pusaran paham sempalan adalah kejahilan dalam memaknai ayat atau hadits. Penafsiran terhadap satu ayat atau hadits tidak didasarkan pada kaidah baku sebagaimana dituntunkan oleh para ulama salaf.

Di sisi lain, masyarakat muslim diliputi pula oleh kejahilan sehingga tidak mampu memilah mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang batil. Sempurnalah sudah dua sisi kejahilan. Sebagai pendakwah, jahil dalam menafsirkan ayat atau hadits, sedangkan yang menerima dakwah juga jahil lantaran tak memiliki bekal untuk menyaring ajaran-ajaran yang tidak benar. Berapa banyak anak muda yang masih polos dijejali paham ekstrem. Dengan kehampaan ilmu syar’i yang ada pada mereka, dipiculah semangat berperang. Doktrin ekstrem dengan kemasan jihad disuntikkan kepada mereka.

Akhirnya, daya tempur melibas musuh meluap-luap. Siapa yang tak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai musuh atau kaki tangan kaum kafir. Sikap ekstrem ini berujung pada pengkafiran serta penghalalan darah dan harta kaum muslimin. Tak sekadar itu, lantaran tidak berbekal ilmu yang memadai, makna jihad menciut di hadapan mereka. Jihad dimaknai oleh mereka sebagai tindakan perang, mengangkat senjata. Tak terlintas pengertian jihad yang lebih luas sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Karena itu, yang menggayut dalam benak mereka adalah jargon “Dibunuh atau Membunuh”. Pengertian jihad menjadi sempit adanya. Dalam sebuah hadits dari Fadhalah bin Ubaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat Hajjatul Wada’ (haji perpisahan),

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ

“Orang yang berjihad (mujahid) itu adalah orang yang bersungguh-sungguh (melawan) nafsunya dalam rangka menaati Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. al-Bazzar,

dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam ash-Shahihu al-Musnad, 2/124 no. 1065)

Jadi, setiap muslim yang dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wasallam terus-menerus berupaya dengan sungguh-sungguh untuk senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dia adalah seorang mujahid. Dirinya terhitung dalam jihad. Jadi, dengan hadits di atas pemaknaan jihad tak semata dengan cara berperang mengangkat senjata.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah salah satu jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau mengungkapkan, sesungguhnya agama Allah Subhanahu wata’ala akan tegak melalui dua hal. Pertama, ilmu dan burhan (hujah); kedua, pedang dan tombak.

Keduanya merupakan suatu keharusan. Sebab, tidak mungkin agama ini bisa tegak kecuali dengan mewujudkan keduanya. Adapun bentuk jihad yang pertama (ilmu dan burhan) didahulukan daripada jihad dengan pedang dan tombak (senjata). Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam merombak tatanan satu masyarakat hingga masyarakat tersebut diberdayakan dengan cara mendakwahinya. Ini menunjukkan bahwa dakwah (menyampaikan ilmu) lebih didahulukan dan diutamakan daripada berperang mengangkat senjata. (al-Ilmu, hlm. 11)

Al-Khatib, Abu Nu’aim, dan selain keduanya meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan,

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ خَشْيَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُدَارَسَتَهُ تَسْبِيحٌ وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ

“Pelajarilah ilmu. Sungguh mempelajarinya karena Allah adalah khasyah (rasa takut kepada), mencarinya adalah ibadah, mengulang-ulangnya adalah tasbih, dan membahasnya adalah jihad.”

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu menyebutkan,

مَنْ رَأَى أَنَّ الْغُدُوَّ إِلَى الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ فِي رَأْيِهِ وَعَقْلِهِ

“Barang siapa berpendapat bahwa berangkat menuntut ilmu itu bukan jihad, sungguh telah ada kekurangan pada pemikiran dan akalnya.” (al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hlm. 139 dan 145)

Karena itu, membenahi pemahaman kaum muslimin dengan memberikan ilmu agama yang benar sesuai dengan tuntunan salaful ummah adalah tindakan teramat penting dewasa ini. Tanpa bekal ilmu syar’i, umat akan mudah diombang-ambingkan oleh keadaan. Mereka tidak memiliki cara pandang yang tepat dalam beramal. Bagai pucuk aru, ke mana angin berembus, ke situlah ia mengarah. Wallahu a’lam.

Sumber : http://asysyariah.com/kajian-utama-kejahilan-lahan-subur-terorisme/

” Bahaya Laten Terorisme ”

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin

Menangkal aksi terorisme tak semata dengan tindak represif aparat keamanan. Bisa saja kelompok teroris itu telah ditangkap, dipenjara, bahkan dihukum mati. Namun, jangan tumbuh anggapan bahwa terorisme telah lenyap. Sang teroris generasi baru dengan kemampuan dan peralatan yang lebih strategis bisa melangsungkan aksinya sewaktu-waktu. Sebab, aksi teror akan senantiasa tumbuh dari masa ke masa, seiring dengan tumbuh kembangnya terorisme sebagai paham dan ideologi.

Walau para teroris sekarang ini telah dibungkam aparat keamanan, tetapi paham dan ideologinya tidak sertamerta mati. Ideologi mereka akan terus bercokol di tengah masyarakat manakala umat tak dibekali kemampuan menolak melalui ilmu agama yang benar selaras pemahaman salafus saleh. Para pendahulu mereka (kelompok teroris) adalah orang-orang yang secara fisik menampakkan dirinya sebagai ahli ibadah. Ketika Abdullah bin al- ‘Abbas c diutus untuk melakukan dialog dengan kelompok khawarij, beliau mengungkapkan keadaan mereka.

Beliau mengatakan bahwa kelompok Khawarij adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka adalah orangorang yang kuat menunaikan shalat malam, puasa, dan tak peduli pada Bahaya Laten Terorisme pakaian yang dikenakannya. Pakaian mereka lusuh. Dahi mereka menghitam lantaran banyak sujud. Tangan-tangan mereka pun terasa kasar. Wajah mereka pucat karena seringnya beribadah di waktu malam. Itulah gambaran mereka, pendahulu kelompok teroris. Mereka memisahkan diri dari pemerintahan yang sah saat itu, yaitu Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tak hanya itu, pemerintah Ali bin Abi Thalib z pun dikafirkan dengan alasan tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Konsentrasi pasukan mereka ditempatkan di satu wilayah yang disebut Harura’ (atau ada pula yang menyebutkan di daerah Nahrawan).

Karena itu, kelompok Khawarij ini disebut juga dengan Haruriyah, yaitu orang-orang yang menetap di Harura’. Walaupun jumlah mereka ribuan —dalam sebagian riwayat disebutkan 12.000 orang, ada yang menyebutkan lebih sedikit dari itu—, tetapi tak seorang pun sahabat Nabi n bersama mereka. Tak ada seorang pun ulama yang mendukung aksi mereka. Tidak ada dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Padahal para sahabat Muhajirin dan Anshar adalah orang-orang yang paling paham tentang al-Qur’an. Mereka lebih mengetahui tafsir al-Qur’an. Penyimpangan lainnya yang ada Mengapa Teroris Tak Pernah Habis pada mereka adalah menghalalkan darah kaum muslimin. Untuk melampiaskan keyakinan satu ini, kalangan Khawarij tak segan menghabisi nyawa kaum muslimin. Dari kalangan mereka, hadir pula manusia jahat yang membunuh para sahabat mulia. Di antara yang terbunuh adalah dua sahabat agung dan mulia, yaitu Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, ada tiga orang Khawarij yang bersekongkol membunuh tiga sahabat mulia. Abdurrahman bin Amr, dikenal dengan Ibnu Muljam al-Himyari, berencana membunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu; al-Burak bin Abdillah menyanggupi membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan c; dan Amr bin Bakr siap membunuh Amr bin al-Ash z. Ketiganya merencanakan aksi menghalalkan darah kaum muslimin. Abdurrahman bin Amr alias Ibnu Muljam al-Himyari melakukan provokasi. Kecemburuan terhadap kelompok korban Nahrawan dibangkitkan oleh Ibnu Muljam. Peristiwa Nahrawan pun diungkit. Mereka mengenang saat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi teman-teman mereka di Nahrawan. Tak sedikit yang terbunuh di antara mereka.

Akhirnya, dengan lantang mereka berucap, “Apa yang akan kita perbuat setelah kematian teman-teman kita? Teman-teman kita yang terbunuh adalah manusia terbaik. Mereka adalah orang-orang yang banyak melakukan shalat. Mereka menyeru kepada Rabbnya. Tak pernah merasa takut walaupun manusia lain mencercanya. Kami telah menjual jiwa-jiwa kami. Para pemimpin sesat itu akan kami datangi. Kami akan bunuh mereka. Kami akan bebaskan negeri-negeri dari cengkeraman mereka. Kami akan membalas kematian temanteman kami.” Ibnu Muljam lantas berkata, “Saya akan membunuh Ali.”Al-Burak bin Abdillah menyertai dan berucap, “Saya akan habisi Mu’awiyah bin Abi Sufyan.” Amr bin Bakr kemudian angkat bicara, “Saya akan libas Amr bin al-Ash.” Mereka saling berjanji, berikrar setia, dan saling memercayai. Mereka tak akan sekali-kali mundur dari rencana ini. Tekad mereka adalah membunuh atau dibunuh. Api telah berkobar, tak mungkin untuk dipadamkan lagi.

Amarah telah memuncak, tak mungkin untuk diredam lagi. Hawa nafsu telah merasuk. Hati telah dipenuhi oleh kebencian membusuk. Dendam telah membara di atas dasar kebatilan. Barbar! Masuk bulan Ramadhan, malam Jumat, malam ketujuh belas. “Malam ini adalah malam untuk menunaikan janjiku terhadap para sahabatku,” kata Ibnu Muljam. Untuk melancarkan aksi terornya, Ibnu Muljam ditemani oleh dua orang, yaitu Wardan dan Syabib bin Bajarah al-Asyja’i al-Haruri. Seraya membawa pedang, ketiganya bersiaga. Mereka mengambil posisi menghadap pintu rumah tempat Ali bin Abi Thalib keluar. Saat yang dinanti tiba. Ali keluar dari pintu rumah itu. Sontak, serangan bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Pedang yang berada di tangan Syabib berkelebat, mengenai bagian leher Ali bin Abi Thalib.

Selang tak berapa lama, giliran pedang Ibnu Muljam menebas bagian samping atas kepala. Darah pun bersimbah, mengucur membasahi janggut Ali. Saat melayangkan pedangnya, Ibnu Muljam berucap, “La hukma illa lillah (tiada hukum kecuali milik Allah). Tidak ada bagimu Ali, tidak ada pula bagi para sahabatmu.” Sejarah telah ditulis dengan darah. Tak akan lekang dalam ingatan kaum muslimin atas tindakan barbar kaum teroris Khawarij. Mereka telah berani menumpahkan darah para sahabat mulia. Mereka telah lancang sebagaimana pendahulunya yang bersikap lancang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dzul Kuwaishirah mengucapkan, “Berbuat adillah, wahai Rasulullah!” Saat itu, Rasulullah n membagi sesuatu kepada para sahabat. Inilah karakter kaum Khawarij, melawan penguasa atau mencelanya. Apabila kita mencermati keadaan orang-orang Khawarij terdahulu, ternyata mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah. Namun, kerajinan ibadah yang mereka lakukan tidak diiringi oleh pemahaman yang benar mengenai ibadah. Landasan ibadah kaum Khawarij hanyalah al-khauf, rasa takut. Ibadah yang mereka tunaikan tidak diiringi dengan raja’ (mengharap) dan mahabbah (cinta).

Hanya saja, secara lahir tergambar betapa mereka adalah kaum yang tekun beribadah. Setelah Abdullah bin ‘Abbas c melakukan dialog dengan mereka, sebagian mereka bertobat. Sebagian lainnya tetap dengan pemahamannya, lalu diperangi oleh pemerintah Ali bin Abi Thalib. Apakah tindakan Ali bin Abi Thalib memerangi sebagian pengikut Khawarij yang tidak mau bertobat dianggap memerangi sesama muslim? Tentu tidak. Walau secara lahir mereka menampakkan amaliah sebagaimana kaum muslimin lainnya, namun di balik itu semua mereka memiliki keyakinan sesat. Keyakinan yang tak semata-mata akan merusak tatanan sosial masyarakat (dalam bentuk pembunuhan, perampasan hak, dan kekacauan). Lebih dari itu, keyakinankeyakinan sesat mereka akan merusak ajaran Islam.

Kemuliaan Islam akan dihancurkan. Ajaran Islam yang penuh rahmah akan dicemari sehingga wajah Islam coreng-moreng. Islam diidentikkan dengan teror. Kaum muslimin yang dengan ikhlas dan benar-benar mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara lahir tampak mirip, disamakan dengan kaum barbar yang tak beradab. Bisa jadi, amaliah secara lahir tampak sama, atribut yang dikenakan juga persis. Akan tetapi, keyakinan yang mendasari sikap dan perbuatan tidak bisa disamakan. Kaum teroris di masa sekarang mengusung nama sebagai pejuang dan pembela Islam serta kaum muslimin.

Namun, itu hanya pengakuan sendiri secara sepihak. Sebab, tindakan mereka di tengah-tengah umat Islam menampakkan wajah aslinya. Apa yang selama ini mereka perbuat mencerminkan keyakinan yang batil. Klaim sebagai mujahid (pejuang) dan pembela Islam tak pantas disematkan kepada mereka. Sebab, pada kenyataannya perjuangan dan amaliah mereka di atas kebatilan. Jubah, sorban boleh sama. Jenggot dan pakaian di atas mata kaki juga boleh sama. Tetapi, keyakinan yang tersimpan di hati tidak bisa disamakan. Itu semua akan tampak dari ucapan, perilaku, dan amaliah lainnya. Pemahaman yang mereka usung akan tampak dari perbuatannya yang tak terbimbing salafus saleh. Tindakan-tindakan anarkis yang mereka lakukan bukan cerminan dari ajaran Islam nan luhur.

Bahkan, bukan pula cerminan dari ajaran jihad yang mulia sebagaimana diajarkan oleh salafus saleh. Jihad yang diajarkan oleh salafus saleh, di antaranya harus dilakukan bersama penguasa. Hal ini dituntunkan oleh al- Imam al-Barbahari rahimahullah dan para imam lainnya bahwa, “Haji dan berperang dilaksanakan bersama pemerintah kaum muslimin (penguasa) akan senantiasa berlangsung (hingga akhir kiamat).” (Syarhus Sunnah. Pernyataan serupa dari para imam lain bisa dilihat pada majalah Asy-Syariah edisi 48)

Cara Identifikasi Teroris

Di antara cara mengidentifikasi seseorang yang berjubah, berjenggot, berpakaian di atas mata kaki, dan berkopiah putih atau bersorban, apakah termasuk jaringan sesat atau tidak, lihatlah teman seiring dalam beraktivitas dan mengaji ilmu agama. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung atas agama temannya. Maka dari itu, perhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (lihat ash-Shahihah no. 927)

Saat al-Imam Sufyan ats-Tsauri tiba di Bashrah, beliau melihat kedudukan ar-Rabi’ bin Shubaih di tengah-tengah umat. Lantas beliau bertanya tentang mazhab (pemahaman) agama ar-Rabi’. Jawab mereka, “Tiada lain mazhabnya adalah as-Sunnah.”

Al-Imam Sufyan bertanya, “Siapa temannya?” Orang-orang menjawab, “Orangorang Qadariyah (yang ingkar terhadap takdir).” Kata al-Imam Sufyan ats-Tsauri, “Kalau begitu, dia seorang qadari.” (al-Ibanah, Ibnu Baththah. Lihat Ijma’ul Ulama ‘ala al-Hajr wa at-Tahdzir min Ahli al-Ahwa’, asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri, hlm. 106)

Kemudian cermati buku-buku atau kitab-kitab yang dikaji, dibaca dan dijadikan rujukan dalam bersikap, bertindak, beramal, dan berucap. Manakala buku atau kitab yang dijadikan pegangan melegalkan anarkisme, terorisme, mendorong untuk melakukan kemaksiatan, bid’ah, dan penyimpangan syar’i lainnya, akan semakin tampak arah kecenderungannya dalam beragama. Di antara buku atau kitab yang berbahaya adalah tulisan Sayid Quthb, Salman al-Audah, Hasan al-Bana, Said Hawa, Fathi Yakan, Abu Muhammad al-Maqdisi (yang dijebloskan ke penjara di Jordania), dan Abdul Qadir bin Abdul Aziz alias Dr. Fadhl alias Sayid Imam Abdul Aziz asy-Syarif (dipenjara seumur hidup di Mesir atas perannya dalam kelompok Islamic Jihad, dia adalah teman sekolah dan sahabat Aiman azh-Zhawahiri, pentolan al-Qaeda Usamah bin Ladin), serta buku-buku yang diterbitkan oleh jaringan teroris Khawarij. Seseorang yang memiliki kecenderungan kepada al-haq akan menghindari buku-buku semacam itu. Dia akan mengikuti bimbingan salafus saleh.

Dinukil oleh al-‘Allamah Ibnu Muflih rahimahullah dalam al-Adabu asy-Syar’iyah, mengutip apa yang disebutkan oleh asy- Syaikh Muwaffiquddin t bahwa salaf melarang bermajelis dengan ahli bid’ah, memerhatikan buku-buku mereka dan mendengarkan perkataannya. (Ijma’ul Ulama’, hlm. 69)

Untuk mengokohkan identifikasi, “Seseorang tergantung atas agama temannya. Maka dari itu, perhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” berikutnya telusurilah kepada siapa dia mengambil pemahaman agamanya. Dari sanalah akan diperoleh kepastian siapa sesungguhnya sosok berjenggot, berjubah di atas mata kaki, dan berkopiah putih tersebut. Sebab, bagi orang yang benar benar belajar Islam secara baik dan benar, tak semudah itu duduk bersimpuh di depan guru. Dia harus mengetahui jati diri dan paham apa yang dianut oleh gurunya. Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah menyatakan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُو عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqqadimah Shahih Muslim)

Nasihat emas Muhammad bin Sirin rahimahullah di atas adalah pegangan untuk tidak meremehkan penentuan sumber pengambilan Islam. Betapa banyak kaum muslimin yang memiliki pemahaman menyimpang karena keliru menentukan sumber rujukan. Bisa saja yang diajarkan adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi saat orang yang dijadikan rujukan itu menafsirkan tidak berdasar pada bimbingan salaf, terjadilah penyimpangan. Betapa mengambil dan menerima ilmu agama haruslah dari orang yang adil dan terpercaya, yaitu para ulama Ahlus Sunnah. Tidak kepada setiap orang hati dan pendengaran ini diserahkan. Ini semua dalam rangka menepis penyimpangan dalam berislam agar Islam yang bersemi di hati berasal dari sumber yang benar.

Setelah memahami permasalahan ini, maka sangat tidak baik apabila menyamaratakan setiap orang berjenggot, berjubah, bercadar, berkopiah putih, atau sorban (imamah) adalah kelompok teroris. Sebagai seorang muslim, hendaknya bijak dalam menyikapi keadaan. Benar adanya, kalangan teroris mengenakan pakaian atau atribut lainnya yang sama dengan yang dikenakan kaum muslimin pada umumnya. Dalam beberapa hal yang mencocoki mereka, para ulama Ahlus Sunnah dijadikan rujukan. Karena itu, pantas apabila dalam mengenakan hal yang bersifat lahir yang melekat pada tubuh ada kesamaan dengan kaum muslimin lainnya.

Sebut saja salah seorang pelaku bom Bali, Imam Samudra. Dia mengambil fatwa para ulama Ahlus Sunnah berdasarkan seleranya. Terkait dengan urusan jilbab dan cadar, dia merasa lebih pas dengan fatwa ulama Saudi, meskipun ulama itu tak lepas dari cercaannya. Sementara itu, dalam masalah musik dan alat hiburan, dia mengambil fatwa asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Sekali lagi, tak mengherankan apabila para istri pelaku bom Bali dan orang-orang yang berada dalam jaringannya berpakaian sama dengan kalangan wanita Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kata Imam Samudra, “Secara pribadi dan keluarga, dalam masalah berpakaian misalnya, jilbab atau hijab atau cadar, aku lebih setuju dan “pas” dengan fatwa para ulama Saudi Arabia, seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Shalih Utsaimin, Syaikh Hamud at-Tuwaijiri, dan lainlain. Dalam menyikapi dan menjaga diri beserta keluarga dari musik dan alat hiburan lainnya, selain berpegang pada syaikh Muhaddits Nashiruddin al- Albani, aku juga berpegang pada fatwa para ulama anggota Dewan Fatwa Saudi Arabia….”(Aku Melawan Teroris, hlm. 64. Lihat Mereka Adalah Teroris, hlm. 181 dan 554—555)

Menyikapi keadaan ini, hendaklah seorang muslim tidak tergesa-gesa memberi penilaian negatif terhadap orang-orang yang berjubah, bercadar, berjenggot, dan yang semakna dengan itu. Apalagi jika langsung menyamakan dan mengelompokkan setiap orang berjubah, berjenggot, atau wanita bercadar adalah bagian dari kelompok teroris. Sebab, sikap demikian bisa menimbulkan antipati terhadap ajaran Islam. Bagaimana pun juga, berjubah, berjenggot, atau wanita bercadar adalah bagian dari ketentuan syariat Islam. Tak bisa dimungkiri bahwa semua itu ada tuntunannya dalam Islam.

Faktor pendorong orang-orang untuk berpenampilan agamis adalah karena hal itu merupakan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, terlepas dari perbedaan pendapat ulama dalam hal cadar, apakah wajib atau sunnah. Semua itu tak ubahnya ajaran agama Islam semisal shalat, puasa, dan yang lainnya. Mereka para teroris Khawarij juga shalat dan puasa, bahkan bisa jadi lebih rajin dan semangat melakukannya. Lantas apakah kita akan menilai bahwa shalat dan puasa adalah ciri teroris? Tentu tidak demikian. Begitu pula masalah jenggot dan cadar. Maka dari itu, ingatlah firman Allah Subhanahu wata’ala.

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

 “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (al- Ahzab: 58)

Sisi yang lain, seorang muslim hendaknya tidak tertipu melihattampilan para teroris mengenakan jubah, berjenggot dan kepala dibebat imamah (surban). Jangan ada anggapan sedikit pun dengan atribut keislaman yang lekat di tubuh mereka bahwa mereka para teroris adalah mujahid sejati. Ketahuilah, penampilan mereka berjubah, berjenggot, dan mengenakan imamah atau peci putih mereka lakukan setelah mereka dijebloskan ke dalam penjara. Saat mereka melakukan aksi teror di tengah-tengah masyarakat, tak sedikit pun ada keberanian untuk menampilkan syiar-syiar keislaman. Tak sedikit dari mereka yang mengenakan celana, kaos oblong, atau kemeja dengan jenggot dicukur habis, sementara topi pet ada di atas kepala. Ini semua dilakukan untuk mengelabui aparat keamanan.

Mereka meneriakkan diri sebagai mujahid yang hendak menegakkan syariat Islam, sementara syiar keislaman tak berani mereka tampakkan pada diri mereka. Aparat keamanan lebih mereka takuti daripada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka tinggalkan Sunnah Rasul-Nya untuk menghilangkan jejak dan agar tidak teridentifikasi aparat keamanan. Allahu musta’an. Tampak betapa kacau prinsip yang ada di dada mereka. Jelas, mereka bukan mujahidin sejati, bukan pejuang umat yang berada di atas landasan keislaman. Lebih tepat dikatakan mereka adalah teroris, pembuat tindakan anarkis dan kekacauan di tengah-tengah umat. Pantas apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut mereka anjing-anjing neraka.

كِلَابُ النَّارِ، كِلَابُ النَّارِ، كِلَابُ النَّارِ، هَؤُلَاءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيم السَّمَاءِ، وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيم السَّمَاءِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلَاءِ

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka. Mereka ini (kaum Khawarij Azariqah) sejelekjelek orang yang dibunuh di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah kolong langit adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij Azariqah).” (al-Jami’ ash-Shahih, 1/201)

Kesamaan Khawarij dahulu dan sekarang adalah mengafirkan pemerintah kaum muslimin dan orang-orang yang mendukungnya, melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kaum muslimin, menghalalkan darah dan harta kaum muslimin, serta membolehkan membunuh anak-anak muslimin. Inilah ideologi mereka. Ideologi mereka telah diwujudkan dalam berbagai aksi “berbau darah” di sepanjang perjalanan sejarah. Tindakan-tindakan mereka senantiasa dihiasi onar, kacau, dan kerusakan di muka bumi. Para sahabat  pun dibunuh, ditumpahkan darahnya.

Mereka jahil, tak berilmu, tak paham fikih dan syariat Islam lantaran mereka berseberangan dengan para ulama Ahlus Sunnah. Di tengah-tengah mereka tidak ada ulama. Mereka hanya memiliki semangat ibadah dan beramal, tetapi ditegakkan dengan emosi dan kebodohan. Tidak di atas landasan ilmu yang benar. Itulah Khawarij. (Mereka Adalah Teroris, hlm. 698—699)

Setelah aksi-aksi teror mereka diberangus aparat keamanan, kini mereka menerapkan strategi baru. Keberadaan pondok pesantren yang masuk dalam jaringan mereka, diberdayakan untuk kaderisasi. Kader-kader muda yang telah disusupi paham-paham Khawarij dibekali pula dengan pelatihan berbau militer. Tujuannya menyiapkan pejuangpejuang untuk “jihad”, yaitu melakukan aksi teror, kekacauan, keonaran dengan dikemas bahasa jihad. Adapula dari mereka yang menyusup ke dalam badan amal usaha milik ormas tertentu. Mereka menggunakan fasilitas-fasilitas milik ormas tersebut untuk merekrut kaderkader baru.

Strategi lain yang mereka kembangkan adalah selalu melansir kata kunci “salaf” atau “ahlus sunnah” ke hadapan umat. Di sisi lain, mereka menghantam habishabisan kaum muslimin–yang mereka bahasakan sebagai kelompok salafi. Tak sedikit buku-buku yang mereka terbitkan menyerang masyarakat yang benar-benar ingin mendakwahkan pemahaman Ahlus Sunnah yang selaras dengan apa yang diajarkan oleh salafus saleh. Dari masa ke masa, paham Khawarij terus menggelinding. Kaum muslimin hendaknya mewaspadai gerakan mereka. Keyakinan batil yang ada pada mereka akan terus ditularkan ke tubuh umat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Pada akhir zaman akan keluar satu kaum yang muda belia usianya, pendek akalnya. Mereka mengatakansebaik-baik ucapan manusia. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas (melesat keluar) dari agama seperti melesatnya anak panah dari (tubuh) buruannya.” ( HR. al-Bukhari no. 3611 dan Muslim no. 1066)

Mereka rajin membaca al-Qur’an, tetapi tidak bisa memahami dengan benar ayat-ayat yang mereka baca. Akibatnya, apa yang mereka baca tak bisa menembus hati. Secara bertahap mereka tergiring untuk keluar dari ketentuanketentuan Islam. Mereka terjatuh pada

kebid’ahan dalam keadaan merasa yakin di atas kebenaran, yakin kalau sedang memperjuangkan Islam. Itulah kebodohan mereka. Sebab, sesungguhnya akal mereka itu dangkal.

Wallahu a’lam.

Sumber : http://asysyariah.com/kajian-utama-bahaya-laten-terorisme/

Kajian Utama ” Demokrasi, Lahan Subur Terorisme “

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin

Saat Presiden Republik Indonesia, Jenderal Besar Soeharto meletakkan jabatan sebagai presiden, sorak sorai, gegap gempita berhamburan dari sebagian anak bangsa. Saat itu, udara di Nusantara bertabur euforia. Kegembiraan demi kegembiraan menebar di alam Indonesia. Keran kebebasan telah dibuka. Api demokrasi telah dipantik menyala. Meskipun bagi sebagian anak bangsa yangmencermati keadaan, alam demokrasi yang baru dihirup saat itu sebenarnya sedang cedera.

Betapa tidak, para pejuang demokrasi saat itu berpura-pura tidak mau tahu atau bahkan melakukan politik “tutup mata” terhadap kelahiran “suasana baru” pasca-lengsernya Jendral Besar Soeharto. Setelah Presiden RI kedua itu meletakkan jabatan, berarti kemenangan para pejuang dan pecinta demokrasi. Mereka lupa bahwa demokrasi yang ada kini didapat dari cara memaksakan kehendak, “meminta” agar presiden mau lengser. Sebuah cara yang tentu saja bertentangan dengan prinsip demokrasi itu sendiri. Sebuah ironi, aneh dan tidak konsisten. Pejuang demokrasi menggunakan cara-cara paksaan, tekanan, kepada penguasa melalui massa.

Alhamdulillah, pihak penguasa bijak. Jenderal Besar Soeharto dengan penuh arif mau meletakkan jabatan. Presiden saat itu mengambil keputusan mundur agar tidak terjadi pertumpahan darah di kalangan anak bangsa. Sebuah sikap penuh tanggung jawab terhadap keselamatan rakyatnya. Perjalanan sejarah ini tak akan luput dari catatan bangsa dan rakyat Indonesia, bahwa pernah ada kemunculan demokrasi melalui cara-cara yang bertentangan dengan “nilai” demokrasi itu sendiri. Demokrasi cedera. Mereka yang lantang memperjuangkan demokratisasi ternyata menampilkan jiwa-jiwa tiran.

Mendiskusikan masalah bangsa dengan penguasa, sementara di luar arena diskusi, gelombang massa memberi tekanan terhadap penguasa. Menampakkan raut wajah manis di depan penguasa seraya tangan menggenggam belati terhunus di balik punggung. Itulah sosok pejuang demokrasi kala itu. Buah dari demokrasi, lahirlah beragam kemelut. Poso bergejolak. Keberanian kaum minoritas Kristen melonjak. Pembantaian terhadap kaum muslimin bisa secara sistematis terlaksana. Sungai Poso yang membelah kota tercemari jasad-jasad kaum muslimin yang tak bernyawa. Tragedi kemanusiaan buah dari alam kebebasan, alam demokrasi.

Tak kalah mengerikan di Maluku, Tobelo dan Halmahera bersimbah darah. Ambon banjir darah. Kaum muslimin diburu dan dibunuh. Tak sedikit yang dicincang. Menanam demokrasi berbuah petaka. Demokrasi membawa angin kebebasan. Semua orang bebas berbicara. Bebas bersuara dan berbuat. Setelah aksi terorisme kalangan Kristen di Poso dan Maluku mereda, tumbuh ke permukaan terorisme yang mengusung nama “jihad”. Syariat jihad yang mulia akhirnya jadi cemoohan manusia jahil. Akibat teroris Khawarij, dakwah salafiyah nan lurus terkena getahnya. Tak sekadar itu, banyak orang tua yang cemas memikirkan anak-anaknya mengaji ajaran sesat yang dikemas dengan bahasa “jihad”.

Setelah itu, anak-anaknya pandai merakit bom untuk dirinya sendiri. Dentuman bom meledak, menggelegar. Lalu tubuh itu pun menjadi serpihan yang tercecer di sana sini. Bom bunuh diri, sebuah antiklimaks dari mengaji agama dengan pemahaman Khawarij. Sekali lagi, semua itu bisa terjadi di alam kebebasan, alam demokrasi. Di alam demokrasi, semua diberi ruang. Menyuarakan kesesatan pun tidak dilarang. Alam demokrasi menjadi lahan subur bagi ajaran sesat dan menyesatkan. Karena demokrasi, negara terbatasi untuk masuk lebih dalam mengurusi kehidupan beragama. Kalaupun aparat menangani aksi terorisme kalangan Khawarij, itu semata karena menyangkut keamanan masyarakat. Negara tidak mau mencampuri urusan keyakinan seseorang. Berjalan di atas kesesatan atau kebenaran, negara tidak peduli.

Semua diserahkan kepada individu. Selama keyakinan yang dianut tidak meresahkan masyarakat, negara tidak peduli. Inilah buah kebebasan yang dituai dari kebebasan demokrasi. Dalam negara demokrasi, alat negara tak akan melakukan tindakan berarti selama dalam batas wacana atau retorika. Dalam negara demokrasi, ketika seseorang menyebarkan paham kesesatan, alat negara tak akan bertindak. Kecuali jika orang yang terasuki paham sesat itu beranjak melakukan aksi yang meresahkan atau membahayakan keamanan orang lain. Dalam kondisi demikian, negara bertindak. Negara melakukan tindakan represif sebatas aksi fisik. Adapun terkait ajaran atau paham, yang merupakan ruh keyakinannya, negara tak menyentuhnya.

Karena itu, kaderisasi kelompok teroris Khawarij setiap tahun mengalami peningkatan. Minimalnya, kaderisasi masih terus berlangsung. Rekrutmen melalui kelompok pengajian atau pondok pesantren masih terus berlangsung. Melarangnya berarti akan mengekang kebebasan seorang warga negara. Tentu saja, ini adalah perbuatan terlarang di negara yang beriklim demokratis. Siapa yang menanam, ia yang menuai. Di bawah pimpinan dan bimbingan Rasulullah n, masyarakat Madinah terjaga dan terayomi. Di tengah komunitas kaum muslimin, hidup pula kalangan ahli kitab. Namun, bukan berarti ahli kitab dibiarkan liar. Ahli kitab diberi dua pilihan; memeluk Islam atau membayar jizyah. Bagi yang memilih memeluk Islam, ia akan mendapatkan hak dan kewajiban sebagai seorang muslim.

Bagi yang tetap memeluk keyakinannya sebagai ahli kitab, ia diposisikan sebagai kafir dzimmi yang dilindungi dengan kompensasi jizyah (upeti). Pada masa kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, orang-orang yang membangkang tidak mau menunaikan zakat diperangi. Setelah diimbau tetap membangkang, maka Khalifah melakukan tindakan represif. Ini sebagai bentuk kepedulian penguasa terhadap praktik keagamaan yang menyimpang.

Begitu pula pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tatkala orang Khawarij melakukan konsentrasi massa dengan pedang terhunus (siap mengafirkan dan memerangi orangorang di luar kelompoknya), Khalifah mengutus sahabat mulia, Abdullah bin ‘Abbas c guna berdialog dengan kaum Khawarij. Pemerintah mengambil inisiatif agar orang-orang Khawarij mau kembali memegang teguh pemahaman Islam yang benar, bukan pemahaman yang menyempal. Akhirnya, sebagian mereka mau bertobat kembali kepada ajaran Islam yang benar. Sebagian lagi tetap bersikukuh di dalam kesesatan. Pemerintahan Ali mengambil langkah represif setelah cara dialogis dan persuasif fisik tidak dihiraukan. Sekali lagi, ini  adalah bentuk perhatian negara terhadap rakyatnya.

Inilah sistem Islam yang tak membiarkan manusia berada dalam kesesatan. Berbeda dengan sistem demokrasi yang mengusung kebebasan. Rakyat akhirnya bebas mengekspresikan apa yang terlintas dalam pikirannya, termasuk dalam masalah keyakinan. Jadi, di alam demokrasi ini, apa pun macam keyakinan seseorang bisa tumbuh subur. Alam demokrasi memola manusia untuk tidak peduli terhadap sesamanya dalam aspek yang sangat mendasar, yaitu agama. Ini adalah sumber malapetaka bagi kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ () كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Demi Dzat yang diriku berada di Tangan-Nya. Sungguh, hendaklah kalian menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Jika tidak, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan menimpakan kepada kalian hukuman dari-Nya, lantas kalian berdoa kepada- Nya dan tidak dikabulkan.” (HR. at- Tirmidzi, no. 2169 dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu)

Secara langsung atau tidak, sistem demokrasi telah memberi pupuk bagi tumbuh suburnya pemahaman Khawarij. Alih-alih menangkal laju aksi terorisme, akar masalah justru tidak dituntaskan. Ideologi Khawarij masih dibiarkan tersebar. Karena menganut demokrasi, pemerintah akan sulit melibasnya. Demokrasi menjadi bumerang bagi bangsa ini. Selain demokrasi, isu HAM (Hak Asasi Manusia) pun bisa menjadi ganjalan dalam memberantas terorisme. Saat kaum minoritas Kristen di Sulawesi Tengah dan Kepulauan Maluku melakukan aksi terorisme, aparat keamanan gamang.

Akibatnya, sebagian merasa ragu untuk bertindak tegas lantaran dibayangbayangi isu HAM. Sementara itu, aksiaksi kekerasan dan anarkisme ada di hadapan aparat keamanan. Namun, moncong senjata yang disandang aparat tersumbat HAM. Akibatnya, terorisme yang dilakukan oleh kaum Kristen leluasa beraksi. upaya pemberantasan terorisme? Karena HAM memiliki prinsip yang sama dengan demokrasi. Prinsip dasar HAM adalah manusia memiliki hak dasar untuk hidup dan memiliki kebebasan. Dasar pemikiran HAM semacam ini bisa ditelusuri dari sejarah kemunculan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948.

Deklarasi itu muncul sebagai reaksi ketertindasan manusia Eropa. Kehidupan masyarakat Eropa yang penuh tekanan dan paksaan melahirkan sikap protes. Kondisi kehidupan seperti itu menjadikan kebebasan sebagai barang langka dan mahal bagi bangsa Eropa. Akhirnya, digagaslah perjuangan untuk menghargai hak asasi. Untuk itu, nilai kebebasan harus menyertai. Tanpa kebebasan, hak asasi tiada arti. Jadilah kebebasan menjadi prinsip dasar pemenuhan hak asasi manusia. Inilah benang merah antara demokrasi dan HAM. (Untuk menelaah Sejarah HAM, silakan lihat Majalah Asy-Syariah, no. 42/1429 H/2008 M)

Terorisme tidak disebabkan oleh mengikuti al-Qur’an dan terjemahannya yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sebagian orang berdalih, akibat banyak kekeliruan terjemah di mushaf tersebut, lahirlah orang-orang yang gemar melakukan aksi teror. Lantas mereka membuat terjemah al-Qur’an versi pemikiran mereka dan dijual kepada khalayak luas. Kalau mau jujur belajar dan berkaca dari sejarah, maka perbuatan anarkisme semacam terorisme telah ada sejak dahulu. Sebelum mushaf al- Qur’an dan terjemahannya diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, aksiaksi kekerasan dan terorisme dengan menyandarkan kepada ayat al-Qur’an telah berlangsung. Lahirnya pemikiran Khawarij di antaranya lantaran salah menggunakan ayat-ayat al-Qur’an.  Ini terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Hendaknya pula diperhatikan, terorisme atau orang yang menjadi teroris bukan hanya orang Indonesia. Aksi terorisme dilakukan juga oleh orangorang Arab. Mereka tentu membaca al-Qur’an tanpa terjemahan bahasa Indonesia. Beberapa orang yang didakwa sebagai teroris adalah jebolan dari pondok pesantren, bahkan sempat mendirikan dan mengasuh pondok pesantren di Malaysia. Dalam kajian, mereka sudah tidak menggunakan mushaf al-Qur’an dan terjemahan Kementerian Agama RI.

Lebih dari itu, aksi terorisme tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai bagian kaum muslimin. Aksi terorisme dilakukan oleh orang kafir dari kalangan Hindu, Budha, Kristen, Katolik, bahkan orang atheis yang tak mau mengakui adanya Allah Subhanahu wata’ala seperti orang komunis. Tentu mereka melakukan aksi terorisme didasarkan pada keyakinan mereka masing-masing. Terlepas dari masalah al-Qur’an dan terjemahannya, hendaknya kaum muslimin “Demi Dzat yang diriku berada di Tangan-Nya. Sungguh, hendaklah kalian menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Jika tidak, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan menimpakan kepada kalian hukuman dari-Nya, lantas kalian berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan.” diberi pencerahan yang benar terkait dengan tafsir al-Qur’an. Kaum muslimin hendaknya dibekali dengan kaidah untuk memahami ayat al-Qur’an sehingga tidak disalahtafsirkan sesuai dengan kepentingan sesaat atau kepentingan kelompok secara sempit.

Proses pembekalan keilmuan demikian sangat diperlukan oleh kaum muslimin. Karena itu, membekali kaum muslimin dengan metodologi penafsiran al-Qur’an sebagaimana kalangan salaf dan para imam ahli ijtihad, mutlak diperlukan. Dengan kata lain, bimbingan dari para ulama Ahlus Sunnah dalam hal memahami Islam, terkhusus penafsiran al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat asasi. Tanpa hal itu, umat akan berjalan sesuai dengan akal pikiran masingmasing dan atas desakan kepentingannya masing-masing. Allahu musta’an.

Sungguh, sangat berbahaya memberikan interpretasi terhadap ayat al-Qur’an tanpa mengindahkan kaidah sebagaimana dipahami salafus saleh. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah pernah mengisyaratkan hal ini. Kata beliau, “Didapati sebagian penafsir dan penulis dewasa ini yang membolehkan makan daging binatang buas atau memakai emas dan sutra (bagi laki-laki) dengan semata-mata bersandar kepada al-Qur’an. Bahkan, dewasa ini didapati sekelompok orang yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur’an saja (Qur’aniyyun). Mereka menafsirkan al-Qur’an dengan hawa nafsu dan akal mereka tanpa dibantu oleh as-Sunnah yang sahih.” (Manzilatu as-Sunnah fil Islam wa Bayanu Annahu La Yustaghna ‘anha bil Qur’an, hlm. 11)

Jauh sebelum itu, Abdullah bin ‘Abbas rahimahullah telah memberikan peringatan, “Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an dengan ra’yu (akal)-nya, persiapkanlah tempat duduknya di neraka.” (I’lamu al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ibnul Qayyim t, hlm. 54)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam mukadimah tafsirnya menyebutkan kaidah menafsirkan al-Qur’an. Secara ringkas, kaidah tersebut adalah sebagai berikut.

1. Menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Metodologi ini adalah yang paling sahih.

2. Menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah. Sebab, as-Sunnah adalah pensyarah yang menjelaskan al-Qur’an.

3. Menafsirkan al-Qur’an dengan perkataan para sahabat. Menurut beliau rahimahullah, apabila tidak didapati tafsir dari al-Qur’an dan as-Sunnah, kita merujuk kepada pernyataan para sahabat.

Sebab, mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi saat turunnya ayat. Apabila tidak didapati cara menafsirkan dengan ketiga metode di atas, al-Qur’an ditafsirkan dengan pemahaman yang dimiliki oleh para tabi’in. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, jadikanlah sebagai pegangan.” Mujahid rahimahullah adalah seorang tabi’in. Islam itu dimulai dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana awalnya. Beruntunglah (berbahagialah) al-ghuraba’ (orangorang asing). Siapakah al-ghuraba’?

Mereka adalah orang-orang saleh yang berjumlah sedikit di tengah orangorang jelek yang berjumlah banyak. Yang memusuhi mereka lebih banyak daripada yang menaati (mematuhi) mereka. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menghidupkan sunnahsunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di kala manusia mematikannya.Wallahu a’lam.

Sumber : http://asysyariah.com/kajian-utama-demokrasi-lahan-subur-terorisme/