” Sepenggal Catatan Tentang Terorisme “

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Ketika dunia dalam keheningan, terorisme menggoncangnya dengan penuh kekuatan. Sejarahnya yang selalu haus darah, sungguh menjadi ancaman bagi kehidupan. Tiada hunian yang dirambahnya pasti diliputi keresahan. Terorisme benar-benar menggemparkan, menakutkan, dan mengerikan. Ironinya, terorisme diidentikkan dengan Islam. Padahal Islam mengutuk terorisme dan berlepas diri darinya.

Pada beberapa tahun terakhir ini, dunia digoncang oleh serangkaian aksi teror1 bom yang mengerikan. Umat manusia terenyak bingung saat mendengar atau menyaksikan episode horor yang menakutkan itu. Aksi teror bom yang dilakukan secara rahasia, baik dengan meledakkan bom waktu, bom bunuh diri, maupun dengan sebatas pemberian ancaman bom berupa kiriman paket, parcel, dan surat. Praktik batil yang tak selaras dengan Islam yang murni dan fitrah yang suci. Akibatnya, tak sedikit kerugian yang diderita oleh umat manusia. Gedung – gedung luluh lantak, mayat-mayat bergelimpangan, korban luka-luka pun harus hidup menderita. Demikian pula kerugian yang bersifat psikis, sangat terasa dalam kehidupan. Kegalauan jiwa muncul walau berada di tengahtengah hunian yang ditinggali. Sebuah tragedi kemanusiaan yang telah menodai lembaran sejarah dengan penderitaan dan kehancuran. Tragisnya, aksi teror bom terus merambah banyak negeri, termasuk Indonesia, tanah air kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menjaganya, membimbing para pemimpinnya di atas Islam, dan menjadikan masyarakatnya sebagai komunitas insan yang beriman lagi bertakwa. Amiin….
Terorisme Bukan dari Islam

Tak dimungkiri bahwa tragedi 11 September 2001 benar-benar menggemparkan dunia. Sebuah aksi teror yang terhitung perdana dalam kisaran dasawarsa (sepuluh tahun) terakhir ini. Aksi teror yang dilakukan oleh dua pesawat Boeing 767 yang menabrakkan diri ke menara kembar WTC dan Pentagon New York, Amerika Serikat (AS). Kedua pesawat itu meledak saat menabrakkan diri ke menara kembar yang tinggi menjulang. Kebakaran pada bagian atas gedung yang dibangun dengan
konstruksi baja itu tak dapat dihindarkan. Tak lama kemudian, menara kembar WTC yang megah itu pun hancur luluh lantak. Sekitar tiga ribu jiwa tewas, dan tak sedikit jumlah korban luka-luka. Muncul pertanyaan, siapakah pelakunya? Di antara sejumlah nama yang disebut-sebut berada di balik tragedi itu adalah Usamah bin Laden dengan jaringan al-Qaedanya. Dengan jitu media massa Barat (baca: kafir) memanfaatkan peluang emas tersebut sebagai modal utama untuk menebar opini
bahwa Islam adalah agama terorisme dan melahirkan para teroris. Tak sebatas itu, AS dan sekutunya menjadikan peluang emas itu sebagai alasan kuat untuk melakukan berbagai operasi teror berskala internasional. Siapakah korbannya? Di antara korbannya adalah rakyat Afghanistan yang
notabene muslim. Mereka dibombardir oleh AS dan sekutunya dengan amat kejam. Alasannya sederhana, memburu para teroris yakni Usamah bin Laden dan jaringan al-Qaedanya yang ditengarai bersembunyi di sana. Akibatnya, tak sedikit dari kaum muslimin Afghanistan yang menjadi korban. Jumlahnya pun tak sebanding dengan jumlah korban WTC. Selang setahun kemudian, aksi teror bom beralih ke tanah air. Tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2002 aksi peledakan bom terjadi di Legian, Bali. Sekitar 202 jiwa tewas dan ratusan orang korban luka-luka. Peristiwa ini
dikenal dengan Tragedi Bom Bali I, mengingat menyusul aksi peledakan bom Bali berikutnya pada tanggal 1 Oktober 2005 yang dikenal dengan Tragedi Bom Bali II. Siapakah pelakunya? Lagi-lagi

nama yang disebut-sebut dari pihak muslim. Mereka adalah Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas.
Setelah Bom Bali II, masih berlanjut berbagai aksi teror bom lainnya di tanah air. Identifikasi pelakunya pun dari pihak muslim. Akibatnya, muncul sebuah penilaian (paradigma) yang salah

di kalangan “masyarakat luas” bahwa Islam adalah agama terorisme. Padahal siapa pun yang mengkaji Islam secara proporsional pasti menyimpulkan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin) dan bukan agama terorisme.
Terorisme Bukan Jihad

Para pembaca yang mulia, bila mencermati berbagai aksi teror yang mengatasnamakan Islam sejak zaman dahulu hingga hari ini, faktor utama yang melandasi para pelakunya adalah prinsip keyakinan (ideologi), bukan harta atau yang semisalnya. Mereka meyakini bahwa berbagai aksi teror itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Adapun pelakunya menyandang predikat mujahid, bukan teroris. Padahal jihad tidak bisa dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan yang harus dimengerti
dengan baik dan benar. Lebih dari itu, jihad harus dilakukan bersama penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu.2 Cobalah perhatikan serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kelompok sesat Khawarij terdahulu. Tidaklah mereka melakukannya kecuali karena keyakinan jihad, bukan karena harta atau yang semisalnya. Padahal serangkaian aksi teror yang mereka lakukan itu targetnya adalah orang-orang pilihan dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Perhatikanlah paparan ringkas tentang serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kaum Khawarij berikut ini.
1. Pengepungan terhadap rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka saat itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.
2. Pembantaian terhadap Abdullah bin Khabbab bin al-Art rahimahullah, saat itu beliau adalah Gubernur Madain (sebuah kota di Irak, arah tenggara Baghdad) pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Kaum Khawarij membunuhnya dan membunuh budak wanitanya yang sedang hamil saat
melewati wilayah kekuasaan mereka. Tak hanya itu, mereka merobek perut budak wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pemimpin utama mereka saat itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi.

3. Pembunuhan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, saat beliau keluar rumah hendak mengimami shalat subuh. Pelakunya adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi.

>4. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu selaku Gubernur Syam (sekarang meliputi Palestina, Syiria, Lebanon, dan Yordania, pen.). Operasi tidak berhasil, karena

beliau berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Yang menjadi korban adalah seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut.

5. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu selaku Gubernur Mesir. Operasi tidak berhasil, karena beliau berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sebagai korbannya, seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t, 12/296—298; al- Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, 7/281; dan Lamhatun

‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy- Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 31—33)3 Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional saat itu. Tidak tanggung-tanggung, target operasi mereka adalah dua khalifah mulia kaum muslimin yang keduanya adalah menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah memetik janji surga dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilakukan kecuali karena satu keyakinan bahwa para korban operasi itu telah kafir dan aksi yang mereka lakukan itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahul musta’an.

Bagaimanakah dengan serangkaian aksi teror bom yang terjadi belakangan ini? Apa landasan para pelakunya? Jawabannya, tak beda dengan kaum Khawarij terdahulu itu. Landasannya adalah ideologi “jihad”. Mari kita simak penuturan mereka yang terlibat dalam serangkaian aksi teror bom tersebut. Usamah bin Laden berkata dalam sebuah kaset yang berjudul “Bersiapsiaplah Untuk Jihad”, “… Hendaknya setiap muslim segera terjun ke medan jihad memerangi orang-orang Yahudi

dan Amerika! Sesungguhnya ini termasuk kewajiban yang paling wajib, dan termasuk ibadah yang paling besar…. Tidak perlu kalian bermusyawarah dengan seorang pun untuk membantai Amerika.

Lakukanlah (berjihadlah) dengan berkah dari Allah Subhanahu wata’ala!” Bagaimana realisasi dari jihad yang dimaksud? Simaklah ucapan Usamah bin Laden berikut ini, “Aku memandang dengan penuh pemuliaan dan penghormatan kepada para pemuda mulia yang telah menghilangkan kehinaan dari umat ini, baik mereka yang telah melakukan peledakan bom di kota Riyadh (ibu kota Saudi Arabia), peledakan di kota Khubar (Saudi Arabia), atau peledakan-peledakan di Afrika Timur, dan yang semisalnya.” Adapun Imam Samudra—termasuk pengagum Usamah bin Laden—berkata, “Konyolnya, ada ulama dari kalangan kaum muslimin yang termakan celotehan vampire-vampire tersebut sehingga dengan seenaknya berfatwa, ‘Apa pun alasannya, Islam mengutuk tindakan tersebut. Islam tidak membenarkan memerangi warga sipil dari bangsa dan agama apa pun!’.” Ucapan senada terdengar juga ketika terjadi operasi jihad WTC dan Pentagon pada 11 September 2001.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 110) Imam Samudra berkata terkait dengan aksi teror bom Bali, “Bom Bali adalah salah satu jihad yang harus dilakukan, sekalipun oleh segelintir kaum muslimin.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 115) Demikianlah, serangkaian aksi teror bom berskala internasional itu mereka yakini sebagai jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Padahal jauh panggang dari api. Aksi teror bom itu bukan jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Aksi teror bom itu tak sesuai dengan prinsip salaf, generasi terbaik umat ini. Justru tindakan tersebut adalah napak tilas gerakan Khawarij, sekte sesat pertama yang muncul dalam ranah kehidupan Islam.4 Mengapa dikatakan napak tilas gerakan Khawarij? Bukankah target operasi kaum Khawarij adalah kaum muslimin, bahkan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan para aktor bom tersebut target operasinya adalah orang-orang kafir, AS dan sekutunya? Ya, itu sebagian target mereka. Tetapi, bukankah kemudian teror itu juga dilakukan di negeri-negeri kaum muslimin, bahkan sebagiannya menjadikan kaum muslimin sebagai target?

Ketahuilah bahwa kondisi para aktor bom tersebut tak jauh berbeda dengan kondisi kaum Khawarij terdahulu. Mereka sama-sama terlibat dalam serangkaian aksi teror berskala internasional yang meresahkan umat. Apabila merujuk pada kamus, berarti mereka itu sama-sama disebut teroris. Dalam hal target operasi, hakikatnya tak jauh berbeda juga. Jika Amerika dan sekutunya dinilai kafir oleh para aktor bom tersebut, demikian pula Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia, mereka pun dinilai kafir oleh kaum Khawarij. Jadi, target operasi keduanya sama-sama orang

kafir di mata para eksekutor teroris itu. Pernyataan bahwa target operasi para aktor bom tersebut adalah orang kafir, hakikatnya hanya kamuflase saja. Bukankah di antara korban peledakan yang dilakukan oleh para aktor bom tersebut baik dalam tragedi Khubar (Saudi Arabia) maupun bom Bali I & II adalah kaum muslimin?! Entahlah, jika mereka semua juga dihukumi sebagai orang kafir! Lalu, apa yang membedakan mereka dengan kaum Khawarij terdahulu yang menghukumi Khalifah Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang mulia sebagai orang kafir?! Bahkan, mereka lebih sadis

dan kejam dibandingkan kaum Khawarij terdahulu. Mengingat korban kaum Khawarij bersifat spesifik pada orangorang yang ditarget saja, sedangkan korban para aktor bom tersebut bersifat

sporadis dan membabi buta. Para wanita, anak-anak, dan semisalnya dari kalangan lemah pun tak urung jadi korbannya. Kalau kaum Khawarij terdahulu dengan sadis merobek perut seorang wanita

muslimah untuk mengeluarkan janinnya, maka bom para teroris itu dengan sadis dapat menghancurkan tubuh korbannya berkeping-keping dan meluluhlantakkan gedung-gedung yang kokoh. Berikutnya, jika diandaikan bahwa korban pengeboman itu adalah orang kafir semata (padahal ada yang muslim), maka dari jenis kafir apakah mereka? Bukankah korban pengeboman tersebut mayoritasnya dari jenis orang kafir yang tidak boleh dibunuh dalam syariat yang mulia ini?! Sebagian mereka dari jenis kafir musta’min yaitu orang kafir yang berkunjung/wisata ke negeri muslim setelah mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin dalam batas waktu tertentu. Sebagian lagi dari jenis kafir mu’ahad yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri, namun terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sebagian yang lain dari jenis kafir dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslim dan mendapatkan jaminan dari pemerintah kaum muslimin untuk hidup secara aman. Demikianlah tiga jenis orang kafir yang tak boleh dibunuh dan tak boleh pula dirampas hartanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih dan dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam berbagai karya tulis mereka. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Jiwa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk dibunuh adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, seorang kafir dzimmi, kafir mu’ahad, dan kafir musta’min.” (al-Qaulul Mufid ala Kitabittauhid 1/38)

Melacak Akar Keislaman Para Teroris

Apa yang telah lalu merupakan sepenggal catatan tentang terorisme dan korelasinya dengan kaum Khawarij terdahulu. Tentunya bila kita lebih giat mempelajari sejarah mereka, niscaya akan lebih banyak catatan berharga tentang terorisme dan para teroris itu. Setidaknya terkait dengan akar keislaman yang selalu dipegang erat oleh mereka dari masa ke masa. Berikut ini adalah tiga akar kekeliruan mendasar yang telah menjerumuskan para teroris Khawarij ke dalam lumpur terorisme

yang hitam dan mengerikan itu. Mudah. mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita semua darinya.

Pertama: Akidah Takfir

Terorisme tak bisa dipisahkan dari akidah takfir, yaitu sikap mudah mengafirkan orang lain tanpa proses yang benar (syar’i). Bahkan, berbagai aksi teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti penculikan, pembunuhan, pengeboman, pemberontakan, dan semisalnya, baik yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok, mayoritasnya disebabkan oleh akidah takfir ini. Menurut sejarah, akidah takfir diprakarsai oleh kaum Khawarij terdahulu. Dengan akidah takfir, mereka lancang mengafirkan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia. Mereka

menghalalkan darah dan harta siapa saja yang tak sepaham dengan mereka. Mereka melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan melancarkan berbagai aksi teror berskala internasional. Akidah takfir dan pergerakannya terus berlanjut secara estafet dari masa ke

masa hingga hari ini. Efeknya terhadap umat sangat berbahaya sepanjang masa, yaitu mengafirkan orang yang tak sepaham, menghalalkan darah dan harta mereka, melakukan serangkaian aksi teror, serta memberontak terhadap pemerintah muslim. Apakah Usamah bin Laden dan Imam Samudra mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu? Ya, keduanya mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu. Simaklah penuturan mereka berikut ini.

• Usamah bin Laden berkata, “Maka para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, dengan itulah mereka telah keluar dari agama (Islam) ini dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.” (Ceramah Terakhir untuk Rakyat Irak pada bulan Dzulhijjah 1423 H, MAT hlm. 252)

• Usamah bin Laden berkata, “Para pemerintah itu telah melanggar dua kalimat syahadat (syahadatain) dalam masalah yang paling prinsip. Yaitu sikap loyal mereka terhadap orangorang

kafir, menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai syariat, dan persetujuan mereka untuk berhukum kepada undang-undang atheis. Maka kepemimpinan mereka itu secara syar’i sudah lama gugur dan tidak ada lagi pemerintahan Islam setelahnya.” (al-Jazeera 5-12-1423 H, MAT hlm. 252)

• Imam Samudra berkata, “23 Mei 1924, mercusuar terakhir, benteng terakhir umat Islam, tumbang sudah… Saat Khilafah Islamiyah musnah, dunia kembali ke zaman jahiliah….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 89—90)

• Imam Samudra berkata, “Aku di jalan Islam, di jalan Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan mereka di atas jalan jahiliah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200)

• Imam Samudra berkata, “Tetapi manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang zalim, bodoh lagi lemah, malah membuat way of life sendiri, menandingi hukum Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna. Manusia telah menyekutukan hukum Allah dengan hukum buatannya sendiri. ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.(al-Ahzab: 72) TETAPI MEREKA ANGKUH LAGI MUSYRIK, ‘Manusia dijadikan bersifat lemah.(an-Nisa’: 28)Di Indonesia, dan di mana pun, banyak kita temukan tipe manusia seperti itu. Bahkan jumlah mereka mayoritas. Mereka telah menyekutukan hukum Allah Subhanahu wata’ala dengan hukum made-in gado-gado.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200—201)

• Imam Samudra berkata , “Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, dengan perantaraan Pak Qadar, Pak Michdan, dan saudara-saudara seislam di TPM. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 15) Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya, “Mengapa mereka terjatuh pada akidah takfir yang sangat berbahaya itu?” Menurut asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahsebabnya ada dua:

1. Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.

2. Ini yang terpenting, yaitu memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, pen.). (Fitnatut Takfir, hlm. 13) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas niat yang jelek. (Fitnatut Takfir, hlm. 19) Demikian pula asy-Syaikh Shalih al- Fauzan hafizhahullah menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut-Tabdi’ wat-Tafsiq wat-Takfir

wa-Dhawabithuha, hlm. 14)5

Kedua: Melecehkan Para Ulama Kibar (Besar)

Sejarah mencatat bahwa orangorang yang terbelenggu akidah takfir, tidak akan berjalan di atas bimbingan para ulama kibar (besar) dalam menyikapi berbagai permasalahan strategis yang ada di tengah umat. Lihatlah kaum Khawarij terdahulu! Mereka mencampakkan bimbingan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para ulama kibar (besar) di masa itu. Apa sebabnya? Tidak lain karena para sahabat tersebut tidak menyetujui penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka. Bagaimanakah dengan Usamah bin Laden dan Imam Samudra dalam hal ini? Ternyata mereka tak jauh berbeda

dengan kaum Khawarij terdahulu. Untuk lebih jelasnya, simaklah penuturan mereka berikut ini:

• Usamah bin Laden, saat memperingatkan umat dari fatwa-fatwa asy-Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Baz t, berkata, “Oleh karena itu, kami mengingatkan umat dari fatwa-fatwa batil seperti ini yang tidak memenuhi syarat.” (Surat Usamah bin Laden, tanggal 28-8-1415, MAT hlm. 264)

• Imam Samudra berkata, “Pada saat mana ulama-ulama kian asyik tenggelam dalam tumpukan kitab-kitab dan gema pengeras suara. Mereka tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan, dan penjajahan terhadap kiblat dan tanah suci mereka….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 93)

• Imam Samudra berkata, “Ia (yakni Raja Fahd) dan gerombolan pembisiknya mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang—dengan segala hormat—kurang mengerti trik-trik politik….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 92) Mengapa para ulama kibar (besar) tersebut disikapi oleh mereka sedemikian rupa? Jawabannya sama, yaitu karena para ulama kibar (besar) tersebut tidak menyepakati penyimpanganpenyimpangan yang ada pada mereka. Subhanallah, setali tiga uang. Oleh karena itu, ketika para ulama kibar (besar) dicampakkan, tentu saja yang akan dijadikan rujukan adalah ruwaibidhah yaitu orang dungu yang berani berbicara tentang urusan strategis umat. Apabila demikian, maka jaminannya adalah kesesatan.

Ketiga: Akidah Khuruj alal Hukkam

Akidah khuruj alal hukkam, yaitu keyakinan boleh/wajib memberontak terhadap penguasa kaum muslimin. Sejarah mencatat bahwa akidah khuruj alal hukkam galibnya merupakan paket lanjutan dari akidah takfir, dan pelecehan terhadap para ulama kibar (besar). Demikianlah proses yang terjadi pada kaum Khawarij ketika memberontak terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Akidah khuruj alal hukkam sangat bertentangan dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, bahkan sebagai sebab terbesar bagi hancurnya kehidupan umat manusia.

Al-Imam Ibnul Qayyim Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan harapan dapat berbuah kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Jika pengingkaran terhadap kemungkaran itu memunculkan kemungkaran yang lebih besar (memperparah keadaan) serta lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, pengingkaran tersebut tidak boleh dilakukan walaupun Allah Subhanahu wata’ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya.

Di antaranya pengingkaran terhadap para raja dan penguasa (kaum muslimin) dengan pemberontakan. Sungguh, hal itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah sepanjang masa.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/ 6) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, di antara prinsip Ahlus Sunnah yang masyhur adalah tidak boleh membangkang terhadap para penguasa dan tidak boleh pula memerangi mereka dengan senjata, walaupun mereka berbuat zalim. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan dalam haditshadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih lagi banyak jumlahnya. Mengingat kerusakan (yang ditimbulkan oleh sikap membangkang dan memberontak, -pen.) berupa perang dan kekacauan yang lebih parah dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kezaliman penguasa semata.…. Hampirhampir tidak ada satu kelompok pun yang memberontak terhadap penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dibandingkan kerusakan yang hendak dihilangkannya.” (Minhajus Sunnah, 3/391)6 Demikianlah sepenggal catatan tentang terorisme, semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Amiin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: