Nahdlatul Ulama dan KH. Hasyim Asari pun mengecam Syiah

Dalam rangka menjernihkan permasalahan Syiah di Indonesia dan simpang-siurnya berita di media massa selama ini, Redaksi hidayatullah.com menurunkan tulisan berseri tentang fakta dan data Syiah di Indonesia yang dirujuk pada buku-buku dan penerbitan Syiah di Indonesia. Selamat membaca. 
***

MESKI berulang kali menyatakan cinta damai dan bersaudara dengan kaum Ahlus Sunnah, tetapi kaum Syiah di Indonesia terbukti sulit melepaskan diri dari budaya caci maki, laknat, dan fitnah. Bahkan, ironisnya, tuduhan-tuduhan keji tak henti-hentinya ditujukan kepada istri Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam, Aisyah r,a.,  yang sangat dihormati kaum Muslimin, sepanjang zaman.

Tahun 2007, Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur – berdiri sekitar tahun 1700 M – mengeluarkan sebuah buku berjudul “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah”?  Salah satu beratnya menjalin ukhuwah antara Sunni-Syiah, menurut buku ini, adalah karena kaum Syiah melanggengkan kecaman terhadap para sahabat Nabi. Padahal, al-Quran sendiri menjelaskan:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaannya…” (QS al-Fath: 29).

Buku Sidogiri itu juga mengkritik sebuah penerbitan Syiah di Jakarta (2004) berjudul Keluarga Suci Nabi: Tafsir Surat al-Ahzab ayat 33, yang mengutip kata-kata Aisyah r.a. yang – katanya — memerintahkan agar Utsman bin Affan dibunuh. Konon, menurut buku terbitan Syiah ini, Aisyah r.a. pernah berkata: “Bunuhlah nu’tsal (si tua Yahudi, maksudnya adalah Utsman), semoga Allah membunuhnya.”
Dalam buku  “Dialog Sunnah – Syiah”  karya  Syarafuddin al Mushawi, terbitan Mizan (cetakan pertama, 1983), juga dimuat tuduhan bahwa Aisyah r.a. telah berbohong karena menceritakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam meninggal di pangkuannya, sehingga didoakan oleh penulisnya,  mudah-mudahan Allah memberikan ampunan untuk Aisyah r.a.:  “Oh…., semoga Allah mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Mu’minin! Mengapa ia, ketika menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya kepada pribadi ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan lebih layak bagi kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam daripada apa yang didakwahkannya? Namun sayang ….., ayahnya – waktu itu – bertugas sebagai anggota pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah diatur dan ditetapkan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.; dan pada saat itu sedang berhenti dan berkumpul di sebuah desa bernama Juruf!” (hal. 353).

Di buku ini juga dimuat cerita bohong tentang provokasi Aisyah terhadap masyarakat dengan  memerintahkan mereka agar membunuh Utsman bin Affan.  Kata buku ini, Aisyah r.a. pernah mengatakan: “Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” (Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357). Di halaman yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah r.a.:

“Engkau yang memulai, engkau yang merusak
Angin dan hujan (kekacauan)
Semuanya berasal darimu
Engkau yang memerintahkan
Pembunuhan atas diri sang Imam
Engkau yang mengatakan
Kini dia sudah kafir.”

Semasa hidupnya, Aisyah r.a. sendiri telah membantah fitnah yang ditujukan beliau. Aisyah r,a, tidak pernah menulis surat yang ditujukan kepada penduduk Mesir agar mereka membunuh Utsman r.a.  Membaca kisah ini, tampaknya ada yang menfitnah Aisyah r.a. dan merusak masyarakat Muslim.   (Sumber: Tarikh Khalifah bin Khayyath, hal. 176 & Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semua ada dalam Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, dar thayba, Riyadh, cet. I,  1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal Utsman, karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I, 1999).

Banyak hadits Nabi yang menunjukkan betapa tingginya keutamaan yang dimiliki istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam tersebut.  Misalnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah berkata kepada Ummu Salamah: “Janganlah kamu menyakiti aku dengan menyakiti ‘Aisyah. (HR. Bukhri). Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah berpesan kepada Fatimah: “Wahai  putriku, apakah engkau mencintai apa yang aku cintai? Fatimah menjawab; Ya.”  Maka beliau Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Cintailah ini –maksudnya ‘Aisyah-”. (HR. Bukhari).

Dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi,  hal.7,  KH  Hasyim Asy’ari – pendiri NU — menyatakan, orang atau kelompok yang mengecam para sahabat Nabi adalah termasuk ahli bid’ah dan sesat.  Kyai Hasyim juga mengutip beberapa riwayat hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam tentang kecaman terhadap orang yang mencaci sahabat-sahabat beliau, diantaranya yaitu :  ”Janganlah kau menyakiti aku dengan cara menyakiti ‘Aisyah”. “Janganlah kamu caci maki sahabatku. Siapa yang mencaci sahabatku, maka dia akan mendapat laknat Allah Subhanahu Wata’ala, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima semua amalnya, baik yang wajib maupun yang sunnah”.  Juga salah satu riwayat hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam:  “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”, demikian pesan KH Hasyim Asy’ari.

Ya…  mencaci maki Presiden saja  dimasukkan dalam kategori  tindak kejahatan (pidana). Bagaimana jika yang dicaci-maki adalah sosok-sosok yang sangat mulia dan sangat dihormati dan dicintai kaum Muslimin?

Sumber :  http://www.hidayatullah.com/read/24890/19/09/2012/%E2%80%9Caisyah-%28r.a.%29-terus-difitnah-dan-dilecehkan-syiah%E2%80%9D.html

One Response

  1. Fatwa MUI Jatim tentang sesatnya Syiah

    http://ashadisasongko.staff.ipb.ac.id/files/2012/04/FATWA-MUI-JATIM-SYIAH-SESAT.pdf

    KEPUTUSAN FATWA
    MAJELIS ULAMA INDONESIA
    (MUI) PROP. JAWA TIMUR
    No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012
    Tentang :
    TENTANG KESESATAN AJARAN SYI’AH
    Majelis Ulama Indonesia Propinsi Jawa Timur pada sidang hari Sabtu, Tanggal 21 Januari 2012
    Membaca:
    1. Surat Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Bangkalan No. 26/26-XV/DP-
    MUI/BKL/XII/2011 tertangal 17 Desember 2011 tentang Permohonan Ketetapan Aliran
    Syi’ah
    2. Surat Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Sampang No.A-034/MUI/Spg/XII/2011
    tertanggal 30 Desember 2011 tentang Laporan Peristiwa di Desa Karang Gayam
    3. Surat Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
    (Korwil) Surabaya No. 01/Korwil/Sby/I/2012 tertanggal 12 Januari 2012 tentang Aliran
    Syi’ah yang isinya meminta kepada MUI Provinsi Jawa Timur untuk melakukan kajian
    dan penetapan fatwa Syi’ah.
    4. Surat Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
    (Korwil) Besuki No. 01/MUI/Besuki/I/2012 tertanggal 13 Januari 2012 tentang Aliran
    Syi’ah yang isinya meminta kepada MUI Provinsi Jawa Timur untuk melakukan kajian
    dan penetapan fatwa Syi’ah.
    5. Rekomendasi Hasil Musyawarah Badan Shilaturrahmi Ulama Pesantren Madura
    (BASSRA) Selasa, 03 Januari 2012 yang salah satu isinya meminta agar MUI Provinsi
    Jawa Timur mengeluarkan fatwa tentang ajaran Syi’ah.
    6. Surat dari Jam’iyah Ahlussunnah wal Jama’ah Bangil Pasuruan No.
    025/ASWAJA/I/2012 tertanggal 10 Januari 2012 tentang Permohonan Fatwa Sesat
    Ajaran Syi’ah.
    7. Surat Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Gresik No. 003/MUI/KAB.G/I/2012 tertangal 19
    Januari 2012 tentang Laporan Keberadaan Syi’ah di Gresik
    8. Pernyataan Sikap Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jatim tanggal 17 Januari 2012
    menyikapi kasus Sampang dan ajaran Tajul Muluk.
    9. Pernyataan Sikap 83 ulama Pondok Pesantren menyikapi aliran yang dibawa oleh saudara
    Tajul Muluk tangal 10 Januari 2012.
    10. Pernyataan Sikap PCNU Sampang No. 255/PC/A.2/L-36/I/2012 menyikapi ajaran yang
    dibawa oleh saudara Ali Murtadlo/Tajul Muluk.
    11. Laporan Hasil Investigasi Kasus Aliran Syi’ah di Kabupaten Sampang Propinsi Jawa
    Timur tanggal 9 April 2011.
    12. Buku-buku kajian tentang faham Syi’ah antara lain:
    1. Al-Milal wa al-Nihal karya al-Syahratstani (hal. 198-203)
    2. Al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal karya Ibn Hazm
    3. Export Revolusi Syi’ah ke Indonesia karya Achmad Zein Alkaf (al-Bayyinat)
    4. Dialog Apa dan Siapa Syi’ah karya Achmad Zein Alkaf (al-Bayyinat)
    5. Mengenal Syi’ah Karya Achmad Zein Alkaf (al-Bayyinat)
    6. Syi’ah Bukan Islam? Karya Lajnah Ilmiyah HASMI
    7. Tulisan Abdurrahman Aziz “Siapakah Pendiri Syi’ah”
    Menimbang:
    1. Bahwa berdasarkan laporan dari masyarakat dan para ulama di beberapa daerah di Jawa
    Timur dinyatakan bahwa faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (menggunakan nama
    samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) telah tersebar di beberapa daerah di Jawa
    Timur
    2. Bahwa adanya indikasi penyebaran faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
    (menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) dilakukan secara
    masif kepada warga yang menganut faham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah.
    3. Bahwa telah ditemukan indikasi di beberapa daerah penyebaran faham Syi’ah Imamiyah
    Itsna Asyariyah (menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya)
    dilakukan kepada warga yang menganut faham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah dari
    kalangan tidak mampu disertai dengan pemberian dalam bentuk santunan.
    4. Bahwa praktik-praktik penyebaran faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
    (menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) yang dilakukan
    secara masif terhadap masyarakat yang berfaham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah, jelas-
    jelas berpotensi menyulut keresahan dan konflik horisontal.
    5. Bahwa berdasarkan penelitan saat ini tidak kurang dari 63 lembaga berbentuk Yayasan, 8
    lembaga Majelis Taklim, 9 organisasi kemasyarakatan, dan 8 Sekolah, atau pesantren
    yang ditengarahi mengajarkan/menyebarkan faham Syi’ah.
    6. Bahwa konflik-konflik yang melibatkan pengikut faham Syi’ah Imamiyah Itsna
    Asyariyah (menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) sudah
    sering terjadi dan telah berjalan cukup lama sehingga dibutuhkan adanya upaya
    pemecahan yang mendasar dengan memotong sumber masalahnya. Tanpa upaya
    pemecahan yang mendasar sangat dimungkinkan konflik akan muncul kembali di
    kemudian hari dan bahkan berpotensi menjadi lebih besar.
    7. Bahwa diantara ajaran yang dikembangkan oleh faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
    (menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) adalah membolehkan
    bahkan menganjurkan praktik nikah mut’ah (kawin kontrak) yang sangat berpotensi
    digunakan untuk melegetimasi praktik perzinaan, seks bebas, dan prostitusi serta
    merupakan bentuk pelecehan terhadap kaum wanita sehingga bila tidak dicegah akan
    bertolak belakang dengan upaya pemerintah Provinsi Jawa Timur yang telah
    mencanangkan program menata kota bersih asusila dengan menutup tempat-tempat
    prostitusi.
    8. Bahwa penyebaran faham Syi’ah yang ditujukan kepada pengikut ahlu al-sunnah wa al-
    jama’ah patut diwaspadai adanya agenda-agenda tersembunyi, mengingat penduduk
    Indonesia yang berfaham pengikut ahlu al-sunnah wa al-jama’ah tidak cocok apabila
    syi’ah dikembangkan di Indonesia.
    9. Bahwa diperlukan adanya pedoman untuk membentengi aqidah umat dari aliran yang
    menyimpang dari faham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah (dalam pengertian yang luas).
    Memperhatikan :
    1. Keputusan Fatwa MUI tanggal 7 Maret 1984 tentang Faham Syi’ah yang menyatakan
    bahwa faham Syi’ah mempunyai perbedaan pokok dengan Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah
    yang dianut oleh umat Islam di Indonesia.
    2. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia II 26 Mei 2006
    tentang Taswiyat al-Manhaj(Penyamaan Pola Pikir Dalam Masalah-masalah Keagamaan)
    khususnya butir (4) dan butir (6) yang menyatakan bahwa perbedaan yang dapat ditolerir
    adalah perbedaan yang berada di dalam majal al-ikhtilaf (wilayah perbedaan) yaitu
    wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ma ana alaihi wa ashhaby yakni
    faham keagamaan ahlu al-sunnah wa al-jama’ah (dalam pengertian luas), sedangkan di
    luarmajal al-ikhtilaf tidak dikategorikan sebagai perbedaan, melainkan penyimpangan.
    3. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia II 26 Mei 2006 tentang
    Peneguhan Bentuk dan Eksistensi NKRI.
    4. Keputusan MUI tertanggal 6 Nopember 2007 tentang 10 kriteria aliran
    sesat/menyimpang.
    5. Telaah terhadap kitab yang menjadi rujukan dari faham syi’ah antara lain:
    1. al-Kafi
    2. Tahdzib al-Ahkam
    3. al-Istibshar
    4. Man La Yahdluru al-Faqih
    5. Buku-buku Syi’ah yang lain seperti: Bihar al-Anwar, Tafsir al-Qummi, Fashl al-
    khithab fi itsbati tahrifi kitabi rabbi al-Arbab, Kasyfu al-Asrar li al-Musawi.
    6. Buku-buku Syi’ah berbahasa Indonesia antara lain: Saqifah Awal Perselisihan
    Umat tulisan O. Hashem; Shalat Dalam Madzhab Ahlul Bait tulisan Hiayatullah
    Husein al Habsyi; Keluarga Suci Nabi Tulisan Ali Umar al-Habsyi
    Berdasarkan kitab-kitab tersebut dapat diketahui adanya perbedaan yang mendasar dengan ahlu
    al-sunnah wa al-jama’ah (dalam pengertian luas) tidak saja pada masalah furu’iyah tetapi juga
    pada masalah ushuliyah (masalah pokok dalam ajaran Islam) diantaranya:
    1. Hadits menurut faham Syi’ah berbeda dengan pengertian ahlu al-sunnah. Menurut Syi’ah
    hadits meliputi af’al, aqwal, dan taqrir yang disandarkan tidak hanya kepada Nabi
    Muhammad Saw tetapi juga para imam-imam Syi’ah.
    2. Faham syi’ah meyakini bahwa imam-imam adalah ma’shum seperti para nabi.
    3. Faham Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan Imamah) termasuk
    masalah aqidah dalam agama.
    4. Faham Syi’ah mengingkari Otentisitas Al-Qur’an dengan mengimani adanya tahrif al-
    Qur’an
    أ .

    ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﻗﺎل
    :
    ﺳﻤﻌﺖ اﺑﺎ ﺟﻌﻔﺮ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﯾﻘﻮل
    :
    ﻣﺎ ادﻋﻲ أﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻨﺎس أﻧﮫ ﺟﻤﻊ اﻟﻘﺮان ﻛﻠﮫ ﻛﻤﺎ أﻧﺰل إﻻ ﻛﺬاب
    ,
    وﻣﺎ
    ﺟﻤﻌﮫ وﺣﻔﻈﮫ ﻛﻤﺎ ﻧﺰل ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻲ إﻻ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ اﺑﻲ طﺎﻟﺐ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم و اﻻﺋﻤﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪه ﻋﻠﯿﮭﻢ اﻟﺴﻼم
    )
    اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج
    1 /
    ص
    284
    (
    ب .

    ﻋﻦ اﺑﻲ ﺟﻌﻔﺮ
    ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم اﻧﮫ ﻗﺎل
    :
    ﻣﺎ ﯾﺴﺘﻄﯿﻊ اﺣﺪ ان ﯾﺪﻋّﻲ أن ﻋﻨﺪه ﺟﻤﯿﻊ اﻟﻘﺮان ﻛﻠﮫ ظﺎھﺮه وﺑﺎطﻨﮫ ﻏﯿﺮ اﻻوﺻﯿﺎء
    )
    اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج
    1 /
    ص
    284

    285
    (
    ت .

    ﻋﻦ اﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﻗﺎل
    :
    ان اﻟﻘﺮان اﻟﺬي ﺟﺎء ﺑﮫ ﺟﺒﺮﯾﻞ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم إﻟﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ
    أﻟﻒ آﯾﺔ
    )
    اﺻﻮل اﻟﻜ
    ﺎﻓﻲ ج
    2 /
    ﺑﺎب اﻟﻨﻮادر
    ,
    رﻗﻢ
    28
    (
    1. Faham Syi’ah meyakini turunnya wahyu setelah al-Qur’an yakni yang disebut mushaf
    Fatimah
    أ .

    إن ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻤﺎ ﻗﺒﺾ ﻧﺒﯿﮫ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ دﺧﻞ ﻋﻠﻰ ﻓﺎطﻤﺔ ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم ﻣﻦ وﻓﺎﺗﮫ ﻣﻦ اﻟﺤﺰن ﻣﺎ ﻻ ﯾﻌﻠﻤﮫ إﻻ ﷲ
    ﻋﺰوﺟﻞ ﻓﺄرﺳﻞ ﷲ
    إﻟﯿﮭﺎ ﻣﻠﻜﺎ ﯾﺴﻠﻲ ﻏﻤﮭﺎ وﯾﺤﺪﺛﮭﺎ، ﻓﺸﻜﺖ ذﻟﻚ إﻟﻰ أﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﻓﻘﺎل
    :
    إذا أﺣﺴﺴﺖ ﺑﺬﻟﻚ وﺳﻤﻌﺖ
    اﻟﺼﻮت ﻗﻮﻟﻲ ﻟﻲ ﻓﺄﻋﻠﻤﺘﮫ ﺑﺬﻟﻚ ﻓﺠﻌﻞ أﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﯾﻜﺘﺐ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺳﻤﻊ ﺣﺘﻰ أﺛﺒﺖ ﻣﻦ ذﻟﻚ ﻣﺼﺤﻔﺎ ﻗﺎل
    :
    ﺛﻢ ﻗﺎل
    :
    أﻣﺎ
    إﻧﮫ ﻟﯿﺲ ﻓﯿﮫ ﺷﺊ ﻣﻦ اﻟﺤﻼل واﻟﺤﺮام وﻟﻜﻦ ﻓﯿﮫ ﻋﻠﻢ
    ﻣﺎ ﯾﻜﻮن
    )
    اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج
    1 /
    ص
    296
    (
    ب .

    وإن ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻟﻤﺼﺤﻒ ﻓﺎطﻤﺔ ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم وﻣﺎ ﯾﺪرﯾﮭﻢ ﻣﺎ ﻣﺼﺤﻒ ﻓﺎطﻤﺔ ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم؟ ﻗﺎل
    :
    ﻗﻠﺖ
    :
    وﻣﺎ ﻣﺼﺤﻒ ﻓﺎطﻤﺔ
    ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم؟ ﻗﺎل
    :
    ﻣﺼﺤﻒ ﻓﯿﮫ ﻣﺜﻞ ﻗﺮآﻧﻜﻢ ھﺬا ﺛﻼث ﻣﺮات، وﷲ ﻣﺎ ﻓﯿﮫ ﻣﻦ ﻗﺮآﻧﻜﻢ ﺣﺮف
    )
    اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج
    1 /
    ص
    290
    (
    1. Syi’ah banyak melakukan penafsiran al-Qur’an yang mendukung faham mereka antara
    lain melecehkan sahabat Nabi Saw. Misalnya penulis Tafsir al-Qummi menafsirkan
    kalimat dalam surat al-Hajj ayat 52
    أ َﻟ ْﻘَﻰ اﻟﺸﱠﯿْﻄَﺎنُ ﻓِﻲ أ ُﻣْﻨِﯿﱠﺘِﮫِ
    :
    ﯾﻌﻨﻲ أﺑﺎ ﺑﻜﺮ وﻋﻤﺮ
    )
    ﺗﻔﺴﯿﺮ اﻟﻘﻤﻲ ص
    .
    259
    (
    1. Syi’ah meyakini bahwa para sahabat telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah Saw,
    kecuali tiga orang.
    ﻋﻦ أﺑﻲ ﺟﻌﻔﺮ ﻗﺎل
    :
    ﻛﺎن اﻟﻨﺎس أھﻞ ردة ﺑﻌﺪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ إﻻ ﺛﻼﺛﺔ ﻓﻘﻠﺖ
    :
    وﻣﻦ اﻟﺜﻼﺛﺔ؟ ﻓﻘﺎل
    :
    اﻟﻤﻘﺪاد ﺑﻦ اﻷﺳﻮد وأﺑﻮ
    ذر اﻟﻐﻔﺎري و ﺳﻠﻤﺎن اﻟﻔﺎرﺳﻲ
    رﺣﻤﺔ ﷲ وﺑﺮﻛﺎﺗﮫ ﻋﻠﯿﮭﻢ
    )
    روﺿﺔ اﻟﻜﺎﻓﻲ ص
    198
    ر
    .
    341
    ,
    ﺑﺤﺎر اﻻﻧﻮار ج
    22
    /
    ص
    333
    (
    1. Faham Syi’ah meyakini bahwa orang yang tidak mengimani terhadap imam-imam Syi’ah
    adalah syirik dan kafir
    إﻋﻠﻢ أن إطﻼق ﻟﻔﻆ اﻟﺸﺮك واﻟﻜﻔﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻟﻢ ﯾﻌﺘﻘﺪ ﺑﺈﻣﺎﻣﺔ أﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ واﻻﺋﻤﺔ

    ﻣﻦ وﻟﺪه ﻋﻠﯿﮭﻢ اﻟﺴﻼم وﻓﻀّﻞ ﻋﻠﯿﮭﻢ ﻏﯿﺮھﻢ
    ﯾﺪل ﻋﻠﻰ أﻧﮭﻢ ﻛﻔﺎر ﻣﺨﻠﺪون ﻓﻲ اﻟﻨﺎر
    )
    ﺑﺤﺎر اﻻﻧﻮار ج
    23
    /
    ص
    390
    (
    1. Faham Syi’ah melecehkan sahabat Nabi Saw. Termasuk Abu Bakar ra dan Umar ra.
    أ .

    وﻣﻦ اﻟﺠﺒﺖ أﺑﻮ ﺑﻜﺮ وﻣﻦ اﻟﻄﺎﻏﻮت ﻋﻤﺮ واﻟﺸﯿﺎطﯿﻦ ﺑﻨﻲ اﻣﯿﺔ وﺑﻨﻲ اﻟﻌﺒﺎس
    )
    ﺷﺮح اﻟﺰﯾﺎرة اﻟﺠﺎﻣﻌﺔ اﻟﻜﺒﯿﺮة ج
    3 /
    ص
    156
    (
    ب .

    وإن اﻟﺸﯿﺨﯿﻦ
    ) –
    أﺑﺎ ﺑﻜﺮ وﻋﻤﺮ

    (
    ﻓﺎرﻗﺎ اﻟﺪﻧﯿﺎ وﻟﻢ ﯾﺘﻮﺑﺎ وﻟﻢ ﯾﺘﺬﻛﺮا ﻣﺎ ﺻﻨﻌﺎ ﺑﺄﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ ﻓﻌﻠﯿﮭﻤﺎ ﻟﻌﻨﺔ ﷲ واﻟﻤﻼﺋﻜﺔ
    واﻟﻨﺎس أﺟﻤﻌﯿﻦ
    )
    روﺿﺔ اﻟﻜﺎﻓﻲ
    /
    ص
    198
    ,
    رﻗﻢ
    343

    ؛ ﻛﺸﻒ اﻷﺳﺮار وﺗﺒﺮﺋﺔ اﻷﺋﻤﺔ اﻷطﮭﺎر ص
    84
    (
    1. Faham Syi’ah meyakini bahwa orang yang selain Syi’ah adalah keturunan pelacur
    وﷲ ﯾﺎ أﺑﺎ ﺣﻤﺰة إن اﻟﻨﺎس ﻛﻠﮭﻢ أوﻻد ﺑﻐﺎﯾﺎ ﻣﺎ ﺧﻼ ﺷﯿﻌﺘﻨﺎ
    )
    روﺿﺔ اﻟﻜﺎﻓﻲ
    :
    ص
    227

    رﻗﻢ
    431
    (
    1. Faham Syi’ah membolehkan bahkan mengaىjurkan praktik nikah mut’ah.
    اﻟ ْﺒَﺎطِﻞَ ﻣَﺎ ﻗَﺎلَ ﺻَﺎﺣِﺒُﻚَ ﻗَ
    ْﺪُ ﷲ ﱠ ِ ﺑْﻦُ ﻋُﻤَﯿْﺮ ٍ ﻓَﻘَﺎلَ ﯾَﺴُﺮﱡكَ أ َنﱠ ﻧِﺴَﺎءَكَ وَ ﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ وَ أ َﺧَﻮَاﺗِﻚَ وَ ﺑَﻨَﺎتِ ﻋَﻤﱢﻚَ
    ﺎلَ ﻓَﺄ َﻗْﺒَﻞَ ﻋَﺒ
    ﯾَﻔْﻌَﻠ ْﻦَ ﻗَﺎلَ ﻓَﺄ َﻋْﺮَضَ
    ﻋَﻨْﮫُ أ َﺑُﻮ ﺟَﻌْﻔَﺮ ٍ

    ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم

    ﺣِﯿﻦَ ذَﻛَﺮَ ﻧِﺴَﺎءَهُ وَ ﺑَﻨَﺎتِ ﻋَﻤﱢﮫِ
    )
    ﻓﺮوع اﻟﻜﺎﻓﻲ ج
    3 /
    ص
    455
    (
    أ .

    ﻋَﻦْ زُرَارَةَ ﻗَﺎلَ ﺟَﺎءَ ﻋَﺒْﺪُ ﷲ ﱠ ِ ﺑْﻦُ ﻋُﻤَﯿْﺮ ٍ اﻟﻠ ﱠﯿْﺜِﻲﱡ إِﻟَﻰ أ َﺑِﻲ

    ﺟَﻌْﻔَﺮ ٍ

    ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم

    ﻓَﻘَﺎلَ ﻟَﮫُ ﻣَﺎ ﺗَﻘُﻮلُ ﻓِﻲ ﻣُﺘْﻌَﺔِ اﻟﻨﱢﺴَﺎءِ ﻓَﻘَﺎلَ أ َﺣَﻠ ﱠﮭَﺎ
    ﷲ ﱠ ُ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﮫِ وَ ﻋَﻠَﻰ ﻟِﺴَﺎنِ ﻧَﺒِﯿﱢﮫِ

    ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ
    ﻓَ
    ِﻟَﻰ ﯾَﻮْمِ اﻟ ْﻘِﯿَﺎﻣَﺔِ ﻓَﻘَﺎلَ ﯾَﺎ أ َﺑَﺎ ﺟَﻌْﻔَﺮ ٍ ﻣِﺜ ْﻠُﻚَ ﯾَﻘُﻮلُ ھَﺬَا وَ ﻗَﺪْ ﺣَﺮﱠﻣَﮭَﺎ ﻋُﻤَﺮُ
    ﮭِﻲَ ﺣَﻼ َ لٌ إ
    ﺎلَ وَ إِنْ ﻛَﺎنَ ﻓَﻌَﻞَ ﻗَﺎلَ إِﻧﱢﻲ أ ُﻋِﯿﺬُكَ ﺑِﺎ? ﱠ ِ ﻣِﻦْ ذَﻟِﻚَ أ َنْ ﺗُﺤِﻞﱠ ﺷَﯿْﺌﺎً ﺣَﺮﱠﻣَﮫُ ﻋُﻤَ
    وَ ﻧَﮭَﻰ ﻋَﻨْﮭَﺎ ﻓَﻘَ
    ﺮُ ﻗَﺎلَ ﻓَﻘَﺎ
    لَ ﻟَﮫُ ﻓَﺄ َﻧْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْلِ ﺻَﺎﺣِﺒِﻚَ وَ أ َﻧَﺎ
    ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْلِ رَﺳُﻮلِ ﷲ ﱠ ِ

    ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ

    ﻓَﮭَﻠُﻢﱠ أ ُﻻ َ ﻋِﻨْﻚَ أ َنﱠ اﻟ ْﻘَﻮْلَ ﻣَﺎ ﻗَﺎلَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ

    ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ

    وَ أ َنﱠ

    ب .

    اﻟْﺤُﺴَﯿْﻦُ ﺑْﻦُ ﻣُﺤَﻤﱠﺪٍ ﻋَﻦْ أَﺣْﻤَﺪَ ﺑْﻦ ِ إِﺳْﺤَﺎقَ
    ﻋَﻦْ ﺳَﻌْﺪَانَ ﺑْﻦ ِ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻋَﻦْ ﻋُﺒَﯿْﺪِ ﺑْﻦ ِ زُرَارَةَ ﻋَﻦْ أَﺑِﯿﮫِ ﻋَﻦْ أَﺑِﻲ ﻋَﺒْﺪِ ﷲ ﱠ ِ

    ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم

    ﮫُ اﻟ ْﻤُﺘْﻌَﺔَ أ َ ھِﻲ َ ﻣِﻦَ اﻷ ْ َرْﺑَﻊ ِ ﻓَﻘَﺎلَ ﺗَﺰَوﱠجْ ﻣِﻨْﮭُﻦﱠ أ َﻟ ْﻔﺎً ﻓَﺈِﻧﱠﮭُﻦﱠ ﻣُﺴْﺘَﺄ ْﺟَﺮَاتٌ
    ﻗَﺎلَ ذَﻛَﺮْتُ ﻟَ
    )
    ﻓﺮوع اﻟﻜﺎﻓﻲ ج
    3 /
    ص
    458
    (
    1. Ajaran Syi’ah menghalalkan darah ahlu al-sunah
    وﻟﮭﺬا أﺑﺎﺣﻮا دﻣﺎء أھﻞ اﻟﺴﻨﺔ وأﻣﻮاﻟﮭﻢ ﻓﻌﻦ داود ﺑﻦ ﻓﺮﻗﺪ ﻗﺎل
    :
    ﻗﻠﺖ ﻷﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﷲ

    ﻣﺎ ﺗﻘﻮل ﻓﻲ ﻗﺘﻞ اﻟﻨﺎﺻﺐ؟
    :
    ﻗﺎل
    :
    ﺣﻼل اﻟﺪم،
    وﻟﻜﻨﻲ أﺗﻘﻲ ﻋﻠﯿﻚ، ﻓﺈن ﻗﺪرت أن ﺗﻘﻠﺐ ﻋﻠﯿﮫ ﺣﺎﺋﻄًﺎ أو ﺗﻐﺮﻗﮫ ﻓﻲ ﻣﺎء ﻟﻜﯿﻼ ﯾﺸﮭﺪ ﻋﻠﯿﻚ ﻓﺎﻓﻌﻞ
    )
    ﻛﺸﻒ اﻷ
    ﺳﺮار وﺗﺒﺮﺋﺔ اﻷﺋﻤﺔ
    اﻷطﮭﺎر ص
    85

    ؛ ﺑﺤﺎر اﻷﻧﻮار ج
    27
    /
    231
    (
    1. Ajaran Syi’ah melecehkan Nabi dan Ummul Mu’minin
    إن اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ ﻻ ﺑﺪ أن ﯾﺪﺧﻞ ﻓﺮﺟﮫ اﻟﻨﺎر، ﻷﻧﮫ وطﺊ ﺑﻌﺾ اﻟﻤﺸﺮﻛﺎت
    (
    ﯾﺮﯾﺪ ﺑﺬﻟﻚ زواﺟﮫ ﻣﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ وﺣﻔﺼﺔ،
    وھﺬا ﻛﻤﺎ ھﻮ ﻣﻌﻠﻮم ﻓﯿﮫ إﺳﺎءة إﻟﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠ
    ﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ، ﻷﻧﮫ ﻟﻮ ﻛﺎن ﻓﺮج رﺳﻮل ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ ﯾﺪﺧﻞ اﻟﻨﺎر ﻓﻠﻦ
    ﯾﺪﺧﻞ اﻟﺠﻨﺔ أﺣﺪ أﺑﺪًا
    )
    ﻛﺸﻒ اﻷﺳﺮار وﺗﺒﺮﺋﺔ اﻷﺋﻤﺔ اﻷطﮭﺎر ص
    24

    25
    (
    1. Ajaran Syi’ah juga mempunyai doktrin Thinah (thinat al-mu’min wa al-kafir) yaitu
    doktrin yang menyatakanan bahwa dalam penciptaan manusia ada unsur tanah putih dan
    tanah hitam. Pengikut Syi’ah tercipta dari unsur tanah putih sedangkan Ahlu al-sunnah
    berasal dari tanah hitam. Para pengikut Syi’ah yang tersusun dari tanah putih jika
    melakukan perbuatan maksiat dosanya akan ditimpakan kepada pengikut ahlu al-sunnah
    (yang tersusun dari tanah hitam) sebaliknya pahala yang dimiliki oleh pengikut Ahlu al-
    sunnah akan diberikan kepada para pegikut Syi’ah. Doktrin ini merupakan doktrin yang
    tersembunyi dalam ajaran Syi’ah. (al-Kafi Juz II / Kitab al-Iman, bab thinat al-mu’min
    wa al-kafir)
    2. Dan masih banyak lagi keganjilan yang lain
    3. Adanya fakta para pengikut Syi’ah menjadikan buku-buku sebagaimana tersebut pada
    butir 5 sebagai kitab rujukannya.
    4. Keputusan Fatwa MUI Kabupaten Sampang No. A-035/MUI/Spg/I/2012 tentang Ajaran
    Yang Disebarluaskan Sdr Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.
    5. Keputusan Rapat Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat
    (BAKOR PAKEM) Kabupaten Sampang tanggal 04 Januari 2012 tentang kesesatan
    ajaran yang disebar luaskan oleh sdr Tajul Muluk.
    6. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten Se Koordinatoriat Wilayah (KORWIL)
    Madura No. 01/MUI/KD/MDR/I/2012 tentang Ajaran Syi’ah atau aliran Syi’ah
    Imamiyah Itsna Asyariyah
    7. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
    (KORWIL) Malang No. 13/Korwil-IV/MLG/I/2012 tentang Pengukuhan Fatwa
    Kesesatan Ajaran Syi’ah;
    8. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
    (KORWIL) Besuki No. 01/MUI/Besuki/I/2012 tentang Ajaran Syi’ah atau aliran Syi’ah
    Imamiyah Itsna Asyariyah
    9. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
    (KORWIL) Surabaya tentang Ajaran Syi’ah atau aliran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
    10. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
    (KORWIL) Bojonegoro No. Kep-01/MUI/KORDA-BJN/I/2012 tentang Ajaran Syi’ah
    atau aliran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
    11. Berbagai kajian yang dilakukan oleh para ahli dan para pengamat terkait aliran Syi’ah
    Imamiyah Itsna Asyariyah, faham, pemikiran, dan aktivitasnya diantaranya Pendapat
    Prof. Dr. Muhammad Baharun yang menyatakan bahwa Syi’ah dan Ahlu al-Sunnah tidak
    mungkin disatukan.
    12. Surat Edaran Kementerian Agama No: BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983
    tentang Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah
    13. Surat Edaran Pengurus Besar Nahdhatul Ulama No:724/A.II.03/10/1997 tentang seruan
    agar kaum Muslimin memahami secara jelas perbedaan prinsipil antara Ahlu al-sunnah
    wa al-jama’ah dengan Syi’ah.
    14. Kesimpulan Hasil Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah pada tanggal 21 September
    1997di Masjid Istiqlal Jakarta .
    15. Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 28 huruf J
    16. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 73
    17. Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau
    Penodaan Agama.
    18. Berbagai pendapat yang berkembang dalam rapat tanggal 21 Januari 2012 yang dihadiri
    oleh beberapa wakil dari MUI Kabupaten/Kota di Jawa Timur (MUI Kab. Jember, MUI
    Kab Pasuruan, MUI Kab. Malang, MUI Kab. Sampang, MUI Kota Surabaya, MUI Kab.
    Tuban, MUI Kab. Bojonegoro, MUI Kab. Ponorogo, MUI Kab. Blitar) dan beberapa
    ormas Islam.
    19. Telaah terhadap dokumen-dokumen dalam bentuk VCD/CD antara lain yang
    mengandung hujatan terhadap sahabat nabi, Perayaan Haul Arbain, Arbain Imam Husain,
    dan Acara Syi’ah di Gereja Bergzicht Lawang.
    20. Pedoman dan Prosedur Penetapan Fatwa MUI
    Mengingat:
    1. Firman Allah dalam al-Qur’an:
    1. Firman Allah Surat al-Baqarah ayat 177
    ﺗُﻮَﻟﱡﻮا وُﺟُﻮھَﻜُﻢْ ﻗِﺒَﻞَ اﻟ ْﻤَﺸْﺮ ِق ِ وَاﻟ ْﻤَﻐْﺮ ِبِ وَﻟَﻜِﻦﱠ اﻟ ْﺒِﺮﱠ ﻣَﻦْ ءَاﻣَﻦَ ﺑِﺎ? ﱠ ِ وَاﻟ ْﯿَ
    ﻟَﯿْﺲَ اﻟ ْﺒِﺮﱠ أ َنْ
    ﻮْمِ اﻵ ْ ﺧِﺮ ِ وَاﻟ ْﻤَﻼ َ ﺋِﻜَﺔِ وَاﻟ ْﻜِﺘَﺎبِ وَاﻟﻨﱠﺒِﯿﱢﯿﻦَ وَءَاﺗَﻰ
    اﻟْﻤَﺎلَ ﻋَﻠَﻰ ﺣُﺒﱢﮫِ ذَو ِي اﻟْﻘُﺮْﺑَﻰ وَاﻟْﯿَﺘَﺎﻣَﻰ وَاﻟْﻤَﺴَ
    َاﺑْﻦَ اﻟﺴﱠﺒِﯿﻞِ وَاﻟﺴﱠﺎﺋِﻠِﯿﻦَ وَﻓِﻲ اﻟﺮﱢﻗَﺎبِ وَأَﻗَﺎم َ اﻟﺼﱠﻼ َ ةَ وَءَاﺗَﻰ اﻟﺰﱠﻛَﺎةَ وَاﻟْﻤُﻮﻓُﻮنَ
    ﺎﻛِﯿﻦَ و
    ھَﺪُوا وَاﻟﺼﱠﺎﺑِﺮ ِﯾﻦَ ﻓِﻲ اﻟ ْﺒَﺄ ْﺳَﺎءِ وَاﻟﻀﱠﺮﱠاءِ وَﺣِﯿﻦَ اﻟ ْﺒَﺄ ْس ِ أ ُوﻟَﺌِﻚَ اﻟ ﱠﺬِﯾﻦَ ﺻَﺪَﻗُﻮا وَ
    ﺑِﻌَﮭْﺪِھِﻢْ إِذَا ﻋَﺎ
    أ ُوﻟَﺌِﻚَ ھُﻢُ ا
    ﻟ ْﻤُﺘﱠﻘُﻮنَ

    Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
    sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
    Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang
    dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan
    pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
    mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
    berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
    Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
    1. Firman Allah Surat al-Qamar ayat 49
    إِﻧﱠﺎ ﻛُﻞﱠ ﺷَﻲْءٍ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎهُ ﺑِﻘَﺪَر ٍ

    Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
    1. Firman Allah Surat al-Hijr ayat 9
    إِﻧﱠﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰﱠﻟ ْﻨَﺎ اﻟﺬﱢﻛْﺮَ وَإِﻧﱠﺎ ﻟَﮫُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈ ُﻮنَ

    Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar
    memeliharanya.
    1. Firman Allah Surat al-Fath ayat 29
    ﷲ ﱠ ِ وَاﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﻣَﻌَﮫُ أَﺷِﺪﱠاءُ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻜُﻔﱠﺎر ِ رُﺣَﻤَﺎءُ ﺑَﯿْﻨَﮭُﻢْ ﺗَﺮَاھُﻢْ رُﻛﱠﻌًﺎ ﺳُﺠﱠﺪًا ﯾَ
    ﻣُﺤَﻤﱠﺪٌ رَﺳُﻮلُ
    ﺒْﺘَﻐُﻮنَ ﻓَﻀْﻼ ً ﻣِﻦَ ﷲ ﱠ ِ وَر ِﺿْﻮَاﻧًﺎ ﺳِﯿﻤَﺎھُﻢْ ﻓِ

    اﻟﺴﱡﺠُﻮدِ ذَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﮭُﻢْ ﻓِﻲ اﻟﺘﱠﻮْرَاةِ وَﻣَﺜَﻠُﮭُﻢْ ﻓِﻲ اﻹ ْ ِﻧْﺠِﯿﻞِ ﻛَﺰَرْع ٍ أ َﺧْﺮَجَ ﺷَﻄ ْﺄ َهُ
    وُﺟُﻮھِﮭِﻢْ ﻣِﻦْ أ َﺛَﺮ ِ
    ﻓَﺂزَرَهُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَى ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﮫِ ﯾُﻌْﺠِﺐُ
    اﻟﺰﱡرﱠاعَ ﻟِﯿَﻐِﯿﻆَ ﺑِﮭِﻢُ اﻟْﻜُﻔﱠﺎرَ وَﻋَﺪَ ﷲ ﱠ ُ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ءَ
    اﻣَﻨُﻮا وَﻋَﻤِﻠُﻮا اﻟﺼﱠﺎﻟِﺤَﺎتِ ﻣِﻨْﮭُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَةً وَأَﺟْﺮًا ﻋَﻈِﯿﻤًﺎ

    Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
    terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan
    sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
    dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
    yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat
    lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
    penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
    kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
    mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
    1. Firman Allah Surat al-Taubah ayat 100
    نَ اﻷ ْ َوﱠﻟُﻮنَ ﻣِﻦَ اﻟ ْﻤُﮭَﺎﺟِﺮ ِﯾﻦَ وَاﻷ ْ َﻧْﺼَﺎر ِ وَاﻟ ﱠﺬِﯾﻦَ اﺗﱠﺒَﻌُﻮھُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎنٍ رَﺿِﻲَ ﷲ ﱠ ُ ﻋَ
    وَاﻟﺴﱠﺎﺑِﻘُﻮ
    ﻨْﮭُﻢْ وَرَﺿُﻮا ﻋَﻨْﮫُ وَأ َﻋَﺪﱠ ﻟَﮭُﻢْ ﺟَﻨﱠﺎتٍ ﺗَﺠْﺮ ِي ﺗَﺤْﺘَﮭَﺎ
    اﻷ ْ َﻧْﮭَﺎرُ ﺧَﺎﻟِﺪِﯾﻦَ ﻓِﯿﮭَﺎ أ َﺑَﺪًا ذَﻟِﻚَ اﻟ ْﻔَﻮْزُ اﻟ ْﻌَﻈِﯿﻢُ

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
    muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
    mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga
    yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
    kemenangan yang besar.
    1. Hadits-hadits Marfu
    أ .

    ﻋَﻦِ اﻹ ْ ِﯾﻤَﺎنِ ﻗَﺎلَ أ َنْ ﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎ? ﱠ ِ وَﻣَﻼ َ ﺋِﻜَﺘِﮫِ وَﻛُﺘُﺒِﮫِ وَرُﺳُﻠِﮫِ وَاﻟ ْﯿَﻮْمِ اﻵ ْ ﺧِﺮ ِ
    ﻗَﺎلَ ﻓَﺄ َﺧْﺒِﺮْﻧِﻲ

    وَﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟ ْﻘَﺪَر ِ ﺧَﯿْﺮ ِهِ وَﺷَﺮﱢهِ
    )
    رواه
    ﻣﺴﻠﻢ
    (
    Bertanya Jibril as: Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman
    kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan
    engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk” (Shahih Muslim Jilid I/hal 23)
    ب .
    ﺑُﻨِﻲ َ اﻹ ْ ِﺳْﻼ َ مُ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻤْﺲٍ ﺷَﮭَﺎدَةِ أ َ
    ﮫَ إِﻻ ﱠ ﷲ ﱠ ُ وَأ َنﱠ ﻣُﺤَﻤﱠﺪًا رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ وَإِﻗَﺎمِ اﻟﺼﱠﻼ َ ةِ وَإِﯾﺘَﺎءِ اﻟﺰﱠﻛَﺎةِ وَاﻟ ْﺤَﺞﱢ وَﺻَﻮْمِ
    نْ ﻻ َ إِﻟَ
    رَﻣَﻀَﺎنَ
    )
    رواه اﻟﺒﺨﺎري

    Islam Dibangun Diatas Lima (Landasan); Persaksian Tidak Ada Ilah Melainkan Allah Dan
    Sesungguhnya Muhammad Utusan Allah, Mendirikan Shalat, Menunaikan Zakat, Haji Dan
    Puasa Ramadlan (Shahih al-Bukhari, Juz I/hal 54 hadits No.8)
    ت .
    ﻣَﻦْ ﻗَﺎلَ ﻓِﻲ اﻟ ْﻘُﺮْآن ِ ﺑِﻐَﯿْﺮ ِ ﻋِﻠ ْﻢٍ ﻓَﻠ ْﯿَﺘَﺒَﻮﱠأ ْ ﻣَﻘْﻌَﺪَهُ ﻣِﻦَ اﻟﻨﱠﺎر ِ

    Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an tanpa ilmu (yang memadai) maka hendaklah dia
    mempersiapkan kedudukannya di neraka” (HR al-Tirmidzi/Sunan al-Tirmidzi V/1999 No. 2950)
    ث .
    وَﻣَﻦْ ﻗَﺎلَ ﻓِﻲ اﻟْﻘُﺮْآن ِ ﺑِﺮَأ ْﯾِﮫِ ﻓَﻠْﯿَﺘَﺒَﻮﱠأ ْ ﻣَﻘْﻌَﺪَهُ ﻣِﻦَ اﻟﻨﱠﺎر ِ

    “Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an berdasarkan nalarnya saja maka hendaklah dia
    mempersiapkan kedudukannya di neraka” (HR al- Tirmidzi/Sunan al-Tirmidzi V/1999 hadits
    No. 2951)
    ج .

    ﻗَﺎلَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻَﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠ ﱠﻢَ ﻻ َ ﺗَﺴُﺒﱡﻮا أ َﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﻓَﻮَاﻟ ﱠﺬِي ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑِﯿَﺪِ
    هِ ﻟَﻮْ أ َنﱠ أ َﺣَﺪَﻛُﻢْ أ َﻧْﻔَﻖَ ﻣِﺜ ْﻞَ أ ُﺣُﺪٍ ذَھَﺒًﺎ ﻣَﺎ أ َدْرَكَ ﻣُﺪﱠ
    أ َﺣَﺪِھِﻢْ وَﻻ َ ﻧَﺼِﯿﻔَﮫُ

    Telah bersabda Rasulullah Saw: “Janganlah kalian mencerca para shahabatku. Demi Dzat yang
    jiwaku ada di tangan-Nya, kalau seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar
    gunung Uhud maka tidak akan dapat menandingi satu mud dari mereka bahkan tidak pula
    setengahnya” (HR. Al-Bukhari, dalam Shahih al-Bukhari Juz II/hal 347 No. 3546; Muslim,
    dalam Shahih Muslim Jilid II hal.1171; dan al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696
    hadits No. 3761)
    ح .

    ﻗَﺎلَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻَﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠ ﱠﻢَ ﷲ ﱠ َ ﷲ ﱠ َ ﻓِﻲ أ َﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﷲ ﱠ َ ﷲ ﱠ َ ﻓِﻲ أ َﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﻻ َ ﺗَﺘﱠ
    ﺨِﺬُوھُﻢْ ﻏَﺮَﺿًﺎ ﺑَﻌْﺪِي ﻓَﻤَﻦْ أ َﺣَﺒﱠﮭُﻢْ ﻓَﺒِﺤُﺒﱢﻲ
    أ َﺣَﺒﱠﮭُﻢْ وَﻣَﻦْ أ َﺑْﻐَﻀَﮭُﻢْ ﻓَﺒِﺒُﻐْﻀِﻲ أ َﺑْﻐَﻀَﮭُﻢْ وَﻣَﻦْ آ
    ذَاھُﻢْ ﻓَﻘَﺪْ آذَاﻧِﻲ وَﻣَﻦْ آذَاﻧِﻲ ﻓَﻘَﺪْ آذَى ﷲ ﱠ َ وَﻣَﻦْ آذَى ﷲ ﱠ َ ﯾُﻮﺷِﻚُ أ َنْ ﯾَﺄ ْﺧُﺬَهُ

    Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kamu
    menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka,
    maka semata-mata karena mencintaiku. Dan barang siapa membenci mereka, maka
    berarti semata-mata karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah
    menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti Allah. Dan
    barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menghukumnya. (HR al-Tirmidzi
    dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696 hadits No. 3762)
    خ .

    ﻋﻦ ﻋُﻮَﯾْﻢِ ﺑْﻦِ ﺳَﺎﻋِﺪَةَ أ َنﱠ رَﺳُﻮلَ ﷲ ﱠ ِ ﻗَﺎلَ
    :

    ﱠ ﷲ ﱠ َ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ اﺧْﺘَﺎرَﻧِﻲ، وَاﺧْﺘَﺎرَ ﻟِﻲ أ َﺻْﺤَﺎﺑًﺎ، ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﻟِﻲ ﻣِﻨْﮭُﻢْ وُزَرَاءَ وَأ َﻧْﺼَﺎرًا
    إِن
    وَأ َﺻْﮭَﺎرًا، ﻓَﻤَﻦْ ﺳَﺒﱠﮭُﻢْ ﻓَﻌَﻠَﯿْﮫِ ﻟَﻌْﻨَﺔُ ﷲ ﱠ ِ، وَاﻟ ْﻤَﻼ َ ﺋِﻜَﺔِ، وَا
    ﻟﻨﱠﺎس ِ أ َﺟْﻤَﻌِﯿﻦَ، ﻻ َ ﯾﻘْﺒَﻞُ

    ﷲ ﻣِﻨْﮫُ ﯾَﻮْمَ اﻟ ْﻘِﯿَﺎﻣ َﺔِ ﺻَﺮْﻓﺎ وَﻻ َ ﻋَﺪْﻻ
    ).
    أﺧﺮﺟﮫ

    اﺑﻮ ﻧﻌﯿﻢ
    ﻓﻰ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ج
    3 /
    ص
    1745
    :
    رﻗﻢ
    4424

    ؛ واﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷوﺳﻂ ج
    1 /
    ص
    272

    رﻗﻢ
    456

    ؛ واﻟﺤﺎﻛﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺘﺪرك
    ج
    4 /
    ص
    68

    رﻗﻢ
    2735
    (
    Dari Uwaim bin Sa’idah ra, sesunguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
    “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memilih diriku, lalu memilih untukku para sahabat dan
    menjadikan mereka sebagai pendamping dan penolong. Maka siapa yang mencela mereka,
    atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima
    amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah”.
    د .

    إِذَا ﻛَﻔﱠﺮَ اﻟﺮﱠﺟُﻞُ أ َﺧَﺎهُ ﻓَﻘَﺪْ ﺑَﺎءَ ﺑِﮭَﺎ أ َﺣَﺪُھُﻤَﺎ

    “Jika seseorang mengkafirkan saudaranya, maka sesungguhnya kalimat itu kembali kepada salah
    satu dari keduanya.” (HR Muslim, dalam Shahih Muslim Jilid I/hal 47 hadits No. 111, hadits
    senada diriwayatkan oleh al-Bukhari, Juz III/hal. 408 No.5883)
    ذ .

    ﻋَﻦْ أَﺑِﻲ ذَرﱟ رَﺿِﻲ ﷲ ﱠ ﻋَﻨْﮫ أَﻧﱠﮫُ ﺳَﻤِﻊَ

    ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠﱠﻢَ ﯾَﻘُﻮلُ ﻻ َ ﯾَﺮْﻣِﻲ رَﺟُﻞٌ رَﺟُﻼ ً ﺑِﺎﻟْﻔُﺴُﻮق ِ وَﻻ َ ﯾَﺮْﻣِﯿﮫِ ﺑِﺎﻟْﻜُﻔْﺮ ِ إِﻻ ﱠ
    اﻟﻨﱠﺒِﻲﱠ ﺻَﻠﱠﻰ

    ارْﺗَﺪﱠتْ ﻋَﻠَﯿْﮫِ إِنْ ﻟَﻢْ ﯾَﻜُﻦْ ﺻَﺎﺣِﺒُﮫُ ﻛَﺬَﻟِﻚَ

    Dari Abi Dzar ra bahwa dia mendengan Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seseorang
    melemparkan tuduhan kepada yang lain dengan kefasikan, dan tidak pula melemparkan tuduhan
    kepada yang lain dengan kekafiran, melainkan hal itu akan kembali kepadanya apabila yang
    dituduh ternyata tidak demikian”.(HR al-Bukhari, Shahih Bukhari Juz III/ hal. 396, No. 582)
    ر .

    ﻟﻨﱠﺎس ِ ﻋَﻠَﻲﱠ ﻓِﻲ ﺻُﺤْﺒَﺘِﮫِ وَﻣَﺎﻟِﮫِ أ َﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮ ٍ وَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﻣُﺘﱠﺨِﺬًا ﺧَﻠِﯿﻼ ً ﻏَﯿْﺮَ رَﺑﱢﻲ ﻻ َ
    إِنﱠ ﻣِﻦْ أ َﻣَﻦﱢ ا
    ﺗﱠﺨَﺬ ْتُ أ َﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮ ٍ وَﻟَﻜِﻦْ أ ُﺧُﻮﱠةُ اﻹ ْ ِﺳْﻼ َ مِ
    وَﻣَﻮَدﱠﺗُﮫُ ِ

    Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di sisiku dengan harta dan jiwanya adalah Abu
    Bakar. Seandainya aku memilih kekasih, selain Tuhanku maka aku akan memilih Abu Bakr,
    Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. (HR al-
    Bukhari, Juz II/hal 344 No. 3529; hadits senada diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim Jilid
    II/hal 1119)
    ز .

    لَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠﱠﻢَ اﻗْﺘَﺪُوا ﺑِﺎﻟﻠﱠﺬَﯾْﻦ ِ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِي أَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮ ٍ وَﻋُﻤَﺮَ
    ﻗَﺎ

    Rasulullah Saw bersabda ikutilah teladan orang-orang setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar (HR
    al-Tirmidzi, Juz V/hal 609 No. 3662)
    س .
    ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﺮﱠﺣْﻤَﻦ ِ ﺑْﻦ ِ ﻋَﻮْفٍ ﻗَﺎلَ ﻗَﺎلَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ

    ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ

    »
    أ َﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮ ٍ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠَﻨﱠﺔِ وَﻋُﻤَﺮُ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠَﻨﱠﺔِ وَﻋُﺜ ْﻤَﺎنُ ﻓِﻰ
    اﻟْﺠَﻨﱠ
    َﻨﱠﺔِ وَطَﻠْﺤَﺔُ َﻨﱠﺔِ وَاﻟﺰﱡﺑَﯿْﺮُ ﻓِﻰ اﻟْﺠَﻨﱠﺔِ وَﻋَﺒْﺪُ اﻟﺮﱠﺣْﻤَﻦ ِ ﺑْﻦُ ﻋَﻮْفٍ ﻓِﻰ اﻟْﺠَ
    ﺔِ وَﻋَﻠِﻰﱞ ﻓِﻰ اﻟْﺠ
    ﻨﱠﺔِ وَﺳَﻌْﺪٌ ﻓِﻰ اﻟْﺠَﻨﱠﺔِ وَﺳَﻌِﯿﺪٌ ﻓِﻰ اﻟْﺠَﻨﱠﺔِ
    وَأ َﺑُﻮ ﻋُﺒَﯿْﺪَةَ ﺑْﻦُ اﻟ ْﺠَﺮﱠاح ِ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠَﻨﱠﺔِ

    Dari Abdurrahman bin Auf dia berkata; Rasulullah Saw bersabda: “Abu Bakar di syurga, Umar
    di syurga, Utsman di syurga, Ali di syurga, Thalhah di syurga, Zubair di syurga, Abdurahman
    ibn Auf di syurga, Sa’ad (ibn Abi Waqqash) di syurga, Said (ibn Zaid ibn Amru ibn Nufail) di
    syurga, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah di syurga” (HR al-Tirmidzi, Juz V/hal 647 hadits No. 3747)
    ش .
    ْﻦ ِ ﻋَﻠِﻲﱟ وَأ َﺧُﻮهُ ﻋَﺒْﺪُﷲ ﱠ ِ ﺑْﻦُ ﻣُﺤَﻤﱠﺪٍ ﻋَﻦْ أ َﺑِﯿﮭِﻤَﺎ أ َنﱠ ﻋَﻠِﯿً ّﺎ رَﺿِﻲ ﷲ ﱠ ﻋَﻨْﮭﻢ ﻗَﺎلَ ﻻ ِ
    ﻋﻦ ﻣُﺤَﻤﱠﺪِ ﺑ
    ﺑْﻦ ِ ﻋَﺒﱠﺎسٍ إِنﱠ اﻟﻨﱠﺒِﻲﱠ ﺻَﻠ ﱠﻰ
    ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ
    وَﺳَﻠﱠﻢَ ﻧَﮭَﻰ ﻋَﻦ ِ اﻟْﻤُﺘْﻌَﺔِ وَﻋَﻦْ ﻟُﺤُﻮمِ اﻟْﺤُﻤُﺮ ِ اﻷ ْ َھْﻠِﯿﱠﺔِ زَﻣَﻦَ ﺧَﯿْﺒَﺮَ

    Dari Muhammad bin Ali dan saudaranya Abdullah bin Muhammad dari Bapak keduanya
    bahwasanya Ali Ra berkata kepada Ibnu Abbas sesungguhnya Nabi saw melarang mut’ah dan
    makan daging keledai jinak pada masa perang khaibar. (HR al-Bukhari, Juz III/hal 200, hadits
    No. 4925)
    ص
    .

    ِ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﻋَﻦْ أ َﺑِﯿﮫِ ﻗَﺎلَ رَﺧﱠﺺَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻَﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠ ﱠﻢَ ﻋَﺎمَ أ َوْطَﺎسٍ ﻓِﻲ اﻟ ْ
    ﻋَﻦْ إِﯾَﺎسِ ﺑْﻦ
    ﻤُﺘْ
    ﻌَﺔِ ﺛَﻼ َ ﺛًﺎ ﺛُﻢﱠ ﻧَﮭَﻰ ﻋَﻨْﮭَﺎ

    Dari Iyas bin Salamah dari ayahnya berkata : Rasulullah memperbolehkan nikah mut’ah pada
    saat perang autas selama tiga hari lalu melarangnya. (HR. Muslim, Shahih Muslim Jilid II/hal.
    633)
    1. Hadits Mauquf kepada Ali ra.
    ﻋَﻦْ
    ِ اﻟْﺤَﻨَﻔِﯿﱠﺔِ ﻗَﺎلَ ﻗُﻠْﺖُ ﻷ ِ َﺑِﻲ أَيﱡ اﻟﻨﱠﺎس ِ ﺧَﯿْﺮٌ ﺑَﻌْﺪَ رَﺳُﻮلِ ﷲ ﱠ ِ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠﱠ
    ﻣُﺤَﻤﱠﺪِ ﺑْﻦ
    ﻢَ ﻗَﺎلَ أَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮ ٍ ﻗُﻠْﺖُ ﺛُﻢﱠ ﻣَﻦْ ﻗَﺎلَ ﺛُﻢﱠ ﻋُﻤَﺮُ
    وَﺧَﺸِﯿﺖُ أ َنْ ﯾَﻘُﻮلَ ﻋُﺜ ْﻤَﺎنُ ﻗُﻠ ْﺖُ ﺛُﻢﱠ أ َﻧْﺖَ ﻗَﺎلَ ﻣَﺎ أ َﻧَﺎ إِ
    ﻻ ﱠ رَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ اﻟ ْﻤُﺴْﻠِﻤِﯿﻦَ

    Dari Muhammd bin Hanafiyah dia berkata; Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi
    Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? beliau menjawab:
    “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab: “Umar”. Dan aku
    khawatir beliau akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau
    menjawab: “Bukan aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”.(diriwayatkan oleh al-Bukhari
    dalam Shahih Bukhari Juz II/hal 347 No.3544)
    1. Pendapat Para Ulama
    1. Pendapat Imam Malik
    روى اﻟﺨﻼل ﻋﻦ اﺑﻰ ﺑﻜﺮ اﻟﻤﺮوزى ﻗﺎل
    :
    وَﺳَﻤِﻌْﺖُ أَﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﷲ ﱠ ِ ﯾَﻘُﻮلُ
    :
    ﻗَﺎلَ ﻣَﺎﻟِﻚٌ
    :
    اﻟﱠﺬِي ﯾَﺸْﺘِﻢُ أَﺻْﺤَﺎبَ اﻟﻨﱠﺒِﻲﱢ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠﱠﻢَ
    ﻟَﯿْﺲَ ﻟَﮫُ ﺳَﮭْﻢٌ، أ َوْ ﻗَﺎلَ
    :
    ﻧَﺼِﯿﺐٌ ﻓِﻲ ا
    ﻹ ِﺳْﻼمِ
    )
    اﻟﺨﻼل
    /
    اﻟﺴﻦ
    :
    ٢ ،
    ٧٥٥
    (
    Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh
    berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak
    termasuk dalam golongan Islam” ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )
    1. Pendapat Imam Ahmad
    روى اﻟﺨﻼل ﻋﻦ اﺑﻰ ﺑﻜﺮ اﻟﻤﺮوزى ﻗﺎل
    :
    ﺳَﺄ َﻟ ْﺖُ أ َﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﷲ ﱠ ِ
    :
    ﻋَﻦْ ﻣَﻦْ ﯾَﺸْﺘِﻢُ أ َﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮ ٍ وَﻋُﻤَﺮَ وَﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ؟ ﻗَﺎلَ
    :
    ﻣَﺎ أ ُرَآهُ ﻋَﻠَﻰ اﻹ ِﺳْﻼمِ
    )
    اﻟﺨﻼل
    /
    اﻟﺴﻨﺔ
    :
    ٢
    ،
    ٧٥٥
    (
    Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu
    Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya
    berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).
    1. Pendapat Ibnu Hazm
    ﻓﺈن اﻟﺮواﻓﺾ ﻟﯿﺴﻮا ﻣﻦ اﻟ
    ﻤﺴﻠﻤﯿﻦ إﻧﻤﺎ ھﻲ ﻓﺮق ﺣﺪث أوﻟﮭﺎ ﺑﻌﺪ ﻣﻮت اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ و ﺳﻠﻢ ﺑﺨﻤﺲ وﻋﺸﺮﯾﻦ ﺳﻨﺔ وﻛﺎن
    ﻣﺒﺪؤھﺎ إﺟﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺧﺬﻟﮫ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﺪﻋﻮة ﻣﻦ ﻛﺎد اﻹﺳﻼم وھﻲ طﺎﺋﻔﺔ ﺗﺠﺮي ﻣﺠﺮى اﻟﯿﮭﻮد واﻟﻨﺼﺎرى ﻓﻲ اﻟﻜﺬب واﻟﻜﻔﺮ

    Sesungguhnya rofidhoh bukanlah dari kalangan kaum muslimin, kelompok ini mula-mula
    muncul 25 tahun setelah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – wafat. Dan asalnya bermula dari
    mengikuti dakwah seorang yang Alloh hinakan yang hendak memerangi Islam kelompok ini
    berjalan di atas jalannya orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam kedustaan dan kekufuran. (Al-
    Fishol fil-milal 2/213)
    1. Pendapat KH Hasyim Asyari (Rois Akbar PBNU)
    وَاﺻْﺪَعْ ﺑِﻤَﺎﺗُﺆْﻣَﺮُ ﻟِﺘَﻨْﻘَﻤِﻊَ اﻟ ْﺒِﺪَعُ ﻋَﻦْ اَھْﻞِ ا ْﻟﻤَﺪَر ِوَاﻟ ْﺤَﺠَﺮ ِ
    .
    ﻗﺎل رﺳﻮل ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ

    اِذَاظَﮭَﺮَتِ اﻟ ْﻔِﺘَﻦُ اَو ِاﻟ ْﺒِﺪَعُ و
    ﺳُﺐﱠ
    ِﺮ ِﻟ ْﻌَﺎﻟِﻢُ ﻋِﻠ ْﻤَﮫُ ﻓَﻤَﻦْ ﻟَﻢْ ﯾَﻔْﻌَﻞْ ذَﻟِﻚَ ﻓَﻌَﻠَﯿْﮫِ ﻟَﻌْﻨَﺔُ ﷲِ وَاﻟ ْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ وَاﻟﻨﱠﺎسِ
    اَﺻْﺤَﺎﺑِﻲْ ﻓَﻠ ْﯿُﻈ ْﮭ

    اَﺟْﻤَﻌِﯿْﻦَ

    Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah
    terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-
    bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim
    menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah,
    laknat Malaikat dan semua orang.”(Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul ulama).

    MEMUTUSKAN
    1. Mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI-MUI daerah yang menyatakan bahwa
    ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran
    Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan
    faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.
    1. Menyatakan bahwa penggunaan Istilah Ahlul Bait untuk pengikut Syi’ah adalah bentuk
    pembajakan kepada ahlul bait Rasulullah Saw.
    2. Merekomendasikan:
    1. Kepada Umat Islam diminta untuk waspada agar tidak mudah terpengaruh dengan
    faham dan ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang
    menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya)
    2. Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan
    kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta
    bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran
    dakwah Islam
    3. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar tidak memberikan
    peluang penyebaran faham Syi’ah di Indonesia, karena penyebaran faham Syi’ah
    di Indonesia yang penduduknya berfaham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah sangat
    berpeluang menimbulkan ketidakstabilan yang dapat mengancam keutuhan
    NKRI.
    4. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar melakukan
    tindakan-tindakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku antara lain
    membekukan/melarang aktivitas Syi’ah beserta lembaga-lembaga yang terkait.
    5. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas
    dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi
    juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik
    adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga
    harus ada penanganan secara komprehensif.
    6. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas
    dalam menangani aliran menyimpang karena hal ini bukan termasuk kebebasan
    beragama tetapi penodaan agama.
    7. Kepada Dewan Pimpinan MUI Pusat dimohon agar mengukuhkan fatwa tentang
    kesesatan Faham Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang
    menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-
    ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah sebagai fatwa yang
    berlaku secara nasional.
    Surabaya 27 Shofar 1433 H
    21 Januari 2012 M

    DEWAN PIMPINAN
    MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)
    PROPINSI JAWA TIMUR

    Ketua Umum Sekretaris Umum
    KH. Abdusshomad Buchori Drs. H Imam Tabroni, MM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: