Ambalat ! Diambang perang !

peta-ambalata-tempoKrisis Ambalat kembali menghangat. Beberapa tahun sejak Februari-Maret 2005 Krisis Ambalat muncul, Februari-Maret 2007  lalu krisis tersebut kembali berulang. Lagi-lagi, Malaysialah yang menjadi biangnya.

Pada waktu  itu krisis dipicu oleh ulah Petronas, perusahaan minyak milik Malaysia, yang memberikan konsesi pengeboran minyak di lepas pantai Sulawesi, yaitu Blok Ambalat, kepada Shell (perusahaan milik Inggris dan Belanda) 15 Februari 2005. Saat itu, Pemerintah Indonesia langsung mengeluarkan nota protes kepada Malaysia. Protes ini dilayangkan karena, menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Marty Natalegawa saat itu, pemberian hak konsesi ini dilakukan dalam wilayah perairan Indonesia. Menurut Marty, klaim tersebut dilakukan Malaysia dengan argumentasi peta tahun 1979 yang diterbitkan secara sepihak oleh Malaysia. “Jangankan Indonesia, negara lain saja sudah protes atas penerbitan peta itu, karena mengubah wilayah perairan di Asia Tenggara,” ujar Marty saat itu.

Protes terhadap peta itu menurut Marty, sudah dilakukan  sejak Tahun 1980 dan tetap dilakukan secara berkala. Indonesia sendiri, ujar Marty, telah memberikan konsesi minyak kepada beberapa perusahaan minyak dunia di lokasi ini sejak tahun 1960-an tanpa ada keberatan dan protes dari negara lain. “Karena memang dilakukan di wilayah Indonesia,” kata Marty. (Tempointeraktif, 27/2/2005).

Pemberian konsesi minyak di perairan  tersebut memang lebih dulu dilakukan Indonesia kepada berbagai perusahaan minyak dunia sejak tahun 1960-an, antara lain kepada Total Indonesie untuk Blok Bunyu sejak 1967 yang dilanjutkan dengan konsesi kepada Hadson Bunyu BV pada 1985. Konsesi lainnya diberikan kepada Beyond Petroleum (BP) untuk Blok North East Kalimantan Offshore dan ENI Bukat Ltd. Italia untuk Blok Bukat pada 1988.

Tak pelak, saat itu, hubungan kedua negara tetangga tersebut mengalami ketegangan yang mencemaskan. Dalam pekan pertama Maret 2005, sudah beberapa kali kapal-kapal perang RI dan Malaysia berhadap-hadapan, nyaris baku tembak.

Krisis Ambalat kembali memanas setelah kapal perang dan pesawat udara Malaysia kembali memasuki wilayah Indonesia. Menurut siaran pers Kepala Dinas Penerangan Komandan Armada Timur Letkol Laut Toni Syaiful, pelanggaran pertama dilakukan pada 24 Februari. Sekitar pukul 10.00 WIB, sebuah kapal perang Malaysia jenis patroli KD Budiman 3909 memasuki wilayah Indonesia dengan kecepatan 10 knot hingga sejauh satu mil laut. Pada sore harinya, pelanggaran wilayah dilakukan oleh kapal patroli KD Sri Perlis 47. Bahkan, kapal ini memasuki wilayah perairan Indonesia lebih jauh, yakni hingga dua mil laut. Tidak puas dengan provokasi itu, keesokan harinya, 25 Februari 2007, KD Sri Perlis 47 kembali memasuki perairan Indonesia. Namun, tidak seperti sebelumnya, kali ini aparat TNI bereaksi dengan mengusir kapal perang tersebut oleh KRI Untung Suropati 872. Seakan tidak puas memprovokasi, hanya dua jam kemudian, sebuah pesawat patroli maritim Malaysia jenis Beech Craft B200T Super King memasuki wilayah Indonesia sejauh 3000 yard. (Metronews, 1/3/2007).

Sejumlah kalangan, termasuk DPR, langsung bereaksi keras. Mereka menuntut Pemerintah Indonesia bersikap tegas. Di antara mereka bahkan ada yang mendorong Pemerintah untuk menembak langsung kapal-kapal Malaysia itu yang melakukan pelanggaran tersebut.

sumber : http://hayatulislam.multiply.com/

Penyelesaian Ambalat tidak Relevan Lewat ASEAN
Kamis, 04 Juni 2009 22:05 WIB

JAKARTA–MI: Direktur Kajian Politik Center for Indonesia National Policy Studies (CINAPS), Guspiabri Sumowigeno menilai, tidak relevan jika penyelesaian konflik blok Ambalat mengandalkan posisi Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN).

“Piagam ASEAN belum pernah digunakan sekalipun dalam menyelesaikan perselisihan di antara negara-negara anggotanya,” kata Guspiabri di Jakarta, Kamis (4/6).

Ia mengatakan, hal ini terjadi karena orientasi negara-negara anggota lainnya tidak pada ASEAN tapi pada patron politik tradisionalnya. “Indonesia terlalu membanggakan ASEAN dan menganggapnya sebagai pilar tunggal dan maha penting bagi politik luar negeri RI,” katanya.

Menurut dia, politik luar negeri dan pertahanan sejak Orde Baru hingga kini juga kerap menjadikan konteks menjaga “perasaan” negara-negara tetangga sebagai pertimbangan dalam melakukan atau tidak melakukan sesuatu. “Padahal apa ada negara tetangga yang pandai menjaga perasaan kita,” katanya.

Dikatakannya Indonesia mudah menyebut negara lain yang memiliki hubungan diplomatik sebagai negara sahabat. Padahal dalam konteks politik, hubungan dua pihak tidak perlu harus terjadi karena rasa atau komitmen persahabatan.

“Praktik hubungan internasional adalah praktik politik, dan seharusnya tidak ditangani dalam dimensi emosional yang berlebihan, tidak ada kawan sejati maupun musuh abadi,” katanya.

Ia mengatakan, kehadiran ASEAN sejak tahun 1967 tak mampu memupus aliansi sebagian negara-negara anggotanya dengan patron tradisionalnya. Menurut dia, aliansi militer masa lalu masih dipertahankan. Pakta militer Five Powers Defence Agreement (FDA) yang beranggota Australia, Selandia Baru, Inggris, Malaysia, dan Singapura masih eksis.

FDA adalah sebuah pakta pertahanan yang memang dibentuk Inggris untuk melindungi Singapura dan Malaysia. Karena itu, kata dia, kalkulasi kekuatan strategis militer Malaysia selalu harus melibatkan konteks FDA.

“Kalau terjadi perang RI dengan Malaysia, yang akan terjadi bukan hanya perang antara kedua negara tetapi Indonesia melawan pakta FDA,” katanya.

Karena itu, katanya, bisa dimaklumi bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampak lebih hati-hati dalam menyikapi konflik Ambalat. Namun mestinya Presiden SBY lebih terbuka soal ketimpangan perimbangan kekuatan militer Indonesia-Malaysia beserta aliansi militernya pada rakyat.

Menurut dia, eskalasi manuver Malaysia di Ambalat sekarang ini adalah memanfaatkan momentum transisi politik berupa Pemilu Legislatif dan Pilpres yang berlangsung dari April hingga Oktober yang menyedot perhatian dan energi segenap elite politik Tanah Air.

“Malaysia berharap Indonesia menjadi lengah sepanjang rangkaian periode transisi itu di mana perpecahan di tengah masyarakat Indonesia karena isu politik domestik di arena Pilpres sedang terjadi,” demikian Guspiabri. (Ant/OL-03)

Kasus Ambalat Masih Dirundingkan.

Senin, 01 Juni 2009 22:11 WIB

Duta Besar Indonesia di Malaysia Dai Bachtiar mengatakan hingga kini pemerintah Indonesia dengan Malaysia masih mengadakan perundingan intensif terkait saling klaim kepemilikan wilayah Ambalat antara dua negara.
Hal itu ditegaskan Dai di ruang VIP Bandara Juanda Surabaya, Senin (1/6). Menurut Dai, kasus Ambalat adalah kasus lama dan hingga saat ini belum ada titik temu. Sejak tahun 2003 dilakukan sedikitnya sudah 13 kali perundingan bilateral antara Indonesia dan Malaysia.

Selama perundingan belum mencapai titik temu, hubungan kedua negara sempat memanas. Memanasnya hubungan kedua negara terbukti dengan beberapa kali kasus pelanggaran batas kapal yang dilakukan kapal perang Malaysia. Tercatat sejak tahun 2007 sampai saat ini, sudah 110 kali kapal Malaysia masuk ke wilayah kedaulatan RI. Sebanyak 76 kali pada 2007, 23 kali pada 2008 dan 11 kali pada 2009.

Pemerintah Indonesia harus tegas dalam menangani kasus Ambalat dengan Malaysia. Perundingan yang digelar harus diberi tenggat waktu agar tidak berlarut-larut.

“Malaysia sudah melanggar perbatasan perairan Ambalat 1000 kali, sangat keterlaluan jika sampai sekarang pemerintah Indonesia masih pakai bahasa-bahasa santun. Harusnya kalau Malaysia langgar lagi, tembak saja!,” ujar ahli pertahanan Syarwan Hamid dalam diskusi di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (5/6).

Namun, lanjutnya, penggunaan kata-kata tembak bukan berarti bahasa emosional melainkan wujud ketegasan dan keberanian yang bila tidak digubris akan benar-benar dilakukan. “Kalau kita terus-menerum bersikap pura-pura baik, lihat saja, jangan-jangan Ambalat akan seperti Sipadan dan Ligitan nasibnya,” ungkapnya.

Menurut Syarwan, sejarah Indonesia dan Malaysia sejak jaman Presiden Soekarno tidak pernah dituntaskan dengan baik. Sehingga, dendam kesumat pun berlanjut antara kedua negara hingga kini. Namun, sambungnya, jika pada jaman Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, Indonesia adalah bangsa yang berani karena presidennya adalah pemberani.

“Memang persoalan Ambalat ini masih abu-abu, pada area ini maka Malaysia hendaknya bersikap sesuai etika. Jangan ada yang melanggar. Saat ini Indonesia sedang tiarap, prajurit disana tidak berani karena Presidennya pun ragu-ragu,” katanya. (MP/OL-06)

Senada dengan di atas, Wapres Jusuf Kalla pada Senin, 01 Juni 2009 17:54 WIB juga menyatakan siap perang. Berikut petikannya.

Indonesia akan bertindak tegas terhadap Malaysia apabila negeri jiran tersebut sengaja melanggar batas wilayah NKRI. Bahkan Indonesia juga siap berperang untuk menjaga wilayah kedaulatannya.

“Kita tegas, kalau memang ada pelanggaran. Apabila negara kita terganggu dengan siapa saja kita bisa perang,” tegas Wapres Jusuf Kalla usai menghadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila di TMII, Senin (1/6).

Itu dikatakan ketika ditanya terkait dengan pelanggaran wilayah perbatasan yang dilakukan kapal patroli tentara Diraja Malaysia beberapa waktu lalu.

Namun, Kalla menegaskan, dirinya terlebih dulu mengecek kepada Tentara Nasional Indonesia soal sejauh mana tingkat pelanggaran di wilayah Ambalat itu. “Kalau berlayar di sekitar itu apakah itu pelanggaran, akan kita lihat,” ujarnya.

Yang jelas, pelanggaran wilayah perbatasan satu negara akan mengganggu kedaulatan sebuah negara.

Kalla juga mengakui sejauh ini hubungan antarnegara berjalan cukup baik. “Kalau dengan Pemerintahan Malaysia, kita punya hubungan cukup baik dan saling kunjung,” ungkapnya. (Che/OL-04)

Di campur aduk dari : www.mediaindonesia.com

Pendapat pribadi : Sebaiknya Indonesia jangan terpancing dengan provokasi yang dilakukan oleh Malaysia. Selama masih ada jalan damai, usaha harus terus dilakukan. Bagaimanapun bila terjadi perang, maka korbannya adalah masyarakat sipil. Luka dan dendam turun temurun masih akan berbekas puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Mungkin bisa dipertimbangkan perundingan dilakukan di negara lain. Bukan sebagai ‘penengah‘ atau ‘wasit‘ atau ‘pengambil keputusan hasil akhir‘ tapi hanya sebagai saksi dari hasil keputusan bersama.

4 Responses

  1. cepatlah indonesia lakukan lah perang agar negara malaysia itu kapok,dan takut untuk menganggu kedaulatan indonesia lagi…

    • sebaIKnyA INdonESIa itU Ke perDANa menTERi maLASYia,Dan bilANG apA SEbeNARnyA Yng DIa maU DarI INdoneSIA Agar LEBih JELas daN TidaK MEWujUDKan pERmusUHan

  2. Kalau kita lapar itu biasa
    Kalau kita malu itu juga biasa
    Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

    Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
    Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

    Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

    Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

    Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
    Ganjang… Malaysia
    Ganjang… Malaysia
    Bulatkan tekad
    Semangat kita badja
    Peluru kita banjak
    Njawa kita banjak
    Bila perlu satoe-satoe!

  3. yg diatas itu adalh suatu kalimat yg diucapkan bung karno, jika pencetus kemerdekaan indonesia aja hendak ingin membinasakan malaysia terlebih lagi kita harus mendukung. karena malaysia sudah keterlaluan dan sangat keterlaluan. tak perlu lagi di hormati atau di kasihani!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: